ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GLOMERULO NEFRITISUJI KUALITAS PEMANFAATAN SUSU MUTU RENDAH SEBAGAI CAMPURAN OLAHAN KERUPUK DENGAN PENAMBAHAN ONGGOK TAPIOKA TERHADAP KADAR PROTEIN KERUPUKHubungan Keaktifan Ibu Hamil dalam Kegiatan Posyandu dengan Status Gizi Balita di Desa Jarum Kecamatan Sidoharjo Kabupaten Amonopause, MEDICAL, MEDICINE, HOSPYTAL, EMERGENCYASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MASALAH ELIMINASICONTOH LATAR BELAKANG TENTANG KEPERAWATANDEFINISI KONSEP SEHAT SAKIT MENURUT DASAR KEPERAWATANFraktur Patella, MEDICAL, HOSPYTAL, EMERGENCY, MEDICINEContoh artikel : Makna opini akuntanProposal Penelitian skripsi : Hubungan Antara Ibu Hamil Anemia dengan Status Gizi Balita di Desa "X"Teras A ~ Contoh Artikel makalah Judul Proposal skripsi askep Keperawatan Kebidanan Farmasi

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GLOMERULO NEFRITIS

I.Pengertian
Glomerulo nefritis akut adalah istilah yang secara luas digunakan yang mengacu pada sekelompok penyakit ginjal di mana inflamasi terjadi di glamerulus. (Brunner dan Suddarth, 2001).
Glamerulo nefritis adalah peradanga dan kerusakan pada alat penyaring darah sekaligus kapiler ginjal (Glamerulus), (Japaries, willie, 1993).
Glamerulus nefritis adalah sindrom yang ditadai oleh peradangan dari glemerulus diikuti pembentukan beberapa antigen (Engran, Barbara, 1999).

II.Etiologi
Kuman streptococus.
Perhubungan dengan penyakit auto imun lain.
Reaksi obat.
Bakteri.
Virus.

III.Manifestasi Klinik
Faringitis atau tansiktis.
Demam
Sakit kepala
Malaise.
Nyeri panggul
Hipertensi
Anoreksi
Muntah
Edema akut
Oliguri
Proteinuri
Urin berwarna cokelat.

IV.Patofisiologi
Prokferusi seluler (peningkata produksi sel endotel;ialah yag melapisi glomerulus), infilaltrasi lekosit ke glameruus, dan penebalan membran filbtrasi glamerulus atau membran basal menghasilkan jaringan perut dan kehilagan permukaan penyaring. Pada glamerulo nefritis akut ginjal membesar, bengkak dan kongesti.
Pada kenyataan kasus, stimulasi dari reaksi adalah infeksi oleh kuman steeptococus A pada tengorok, yang biasayang mendahului glomerulo nefritis sampai interval 2 – 3 minggu. Produk streptacocus bertindak sebagai antinge, menstimulasi antibodi yang bersirkulasi menyebabkan cidera ginjal.



V.Penatalaksanaan medis
Anti hipertensif
Anti dkurektik
Antibiotik dengan infeksi streptokokal menetap.
Anti biotik profilaktif selama masa pemuliha
Masukkan dan keluaran.
TTV 2 – 4 jam.
Pembatasan Natrium.

VI.Pemeriksaan diagnostik
Urinalisis (UA) menunjukkan hematnya gross, protein dismonfik dan (bentuk tidak serasi) SDm, leusit, dan gips hialin.
Lajur filtrasi glomeruslus (IFG) meurun, klerins kreatinin pada unrin digunakan sebagai pengukur dan LFG spesine urin 24 jam dikumpulkan. Sampel darah untuk kreatinin juga ditampung denga cara arus tegah (midstream).
Nitrogen urea darah (BUN) da kreatinin serum menigkat bila fungsi ginjal mulai menurun.
Albumin serum dan protein total mungkin normal atau agak turun (karena hemodilusi).
Contoh urin acak untuk eletrokoresisi protein mengidenti filaasi jenis protein urin yang dikeluarkan dalam urin.
Elektrolit seru menunjukkan peningkatan natrium dan peningkatan atau normal kadar-kadar kalium dan klorida.

VII.Potensial komplikasi
Hipertensi.
Dekopensasi jantung
GGA (Gagal Ginjal Akut)

VIII.Asuhan Keperawatan
Pengkajian.
1.Identitas pasien.
2.Riwayat penyakit, dahulu, sekarang dan keluarga.
3.Riwayat /adanya faktor resiko.
a.Bagaimana frekuensi miksinya, apakah terdapat :
b.Adakah kelainan waktu miksi seperti :
c.Apakah rasa sakit terdapat pada daerah setempat atau secara unum.
d.Apakah penyakit timbul setelah adanya peyakit yang lain.
e.Apakah terdapat mual dan muntah.
f.Apakah terdapat oedema.
g.Bagaimana keadaan urinnya (volume, warna, bau, berat jenis, jumlah urie dalam 24 jam).
h.Adakah sekret atau darah yang keluar.
i.Adakah hambantan seksual.
j.Bagaimana Riwayat, haid (menache, lamanya, banyaknya, sirkulasinya, keluhannya).
k.Bagaimana Riwayat kehamilan, arbortus, pemakaian alat kontrsepsi.
l.Rasa nyeri (lokasi, identitas, saat timbulnya nyeri).
m.Riwayat Persalinan.
n.Riwayat Pendarahan.
4. Data fisik :
inspeksi :
secara umum dan secara khusus pada daerah genital palpasi :
pada daeraha bdomen, buli-buli, lipat paha.
Auskultasi : darah abdomen.
Perkusi : daerah abdomen, ginjal.
Keadaa umum pasien :
Tingkat kesadaran.
Tinggi vital eliputi tensi, nadi, suhu, pernafasan.

Read More …
Read more...

UJI KUALITAS PEMANFAATAN SUSU MUTU RENDAH SEBAGAI CAMPURAN OLAHAN KERUPUK DENGAN PENAMBAHAN ONGGOK TAPIOKA TERHADAP KADAR PROTEIN KERUPUK


Disusun Guna Memenuhi Persyaratan Kelulusan Mata Kuliah Seminar
Jurusan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Disusun Oleh :
Y


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2007
UJI KUALITAS PEMANFAATAN SUSU MUTU RENDAH SEBAGAI CAMPURAN OLAHAN KERUPUK DENGAN PENAMBAHAN ONGGOK TAPIOKA TERHADAP KADAR PROTEIN KERUPUK

A.Latar Belakang
Susu merupakan bahan pangan alami dengan nilai nutrisi yang lengkap dan telah dikonsumsi oleh hampir seluruh lapisan masyarakat namun hingga saat ini kualitas dan manfaatnya belum banyak dipahami oleh masyarakat.
Susu berasal dari semua hewan mamalia yaitu hewan yang mempunyai kelenjar ambing atau kelenjar susu.ada lebih dari 10.000 spesies mamalia yang menghasilkan susu diantaranya manusia yang disebut ASI (Air Susu Ibu), sapi, kambing, domba, unta, kerbau, kuda dan lain-lain. Menurut Tri Eko Susu merupakan sekresi fisiologis kelenjar ambing, yang memiliki gizi yang lengkap dibutuhkan dalam tubuh untuk pertumbuhan dan perkembangan.
Susu banyak dikonsumsi dan telah memasyarakat, dalam susunan menu sehari-hari susu dipakai sebagai bahan pangan penyempurnaan yakni dalam makanan empat sehat lima sempurna ( Eirry, 2005)
Kandungan gizi dalam susu yang bermanfaat secara biologis salah satunya protein. Protein dalam susu kaya akan kandungan lisin, niacin, dan ferrum. Asam amino dalam susu dibutuhkan oleh tubuh untuk mempertahankan substansi tubuh yaitu Enzim, hormon, dan antibodi. Asam amino juga membantu dalam pembentukan sel-sel darah dan jaringan. (Manik, 2006)
Namun, walaupun susu merupakan minuman yang bergizi tinggi, tidak semua orang dapat mencerna susu dengan baik. Hal ini disebabkan oleh gangguan pencernaan yang timbul setelah mengkonsumsi susu karena tidak terpecahnya laktosa (gula susu) menjadi komponen-komponen sederhana yang dapat diserap oleh tubuh, yaitu monosakarida, glukosa, dan galaktosa. Selain itu alasan orang menghindari susu adalah karena aroma susu yang khas dan dapat menimbulkan rasa mual.
Permasalahan lain pada susu segar adalah sangat mudah rusak, Susu segar biasanya terkontaminasi oleh bakteri yang mampu berkembang cepat sekali sehingga susu menjadi rusak atau tidak layak dikonsumsi.
Untuk memperpanjang daya guna, daya tahan simpan, serta meningkatkan nilai ekonomi, diperlukan teknik penanganan dan pengolahan. Salah satu alternatif upaya pemecahan masalah tersebut adalah dengan melakukan pengolahan susu yang cukup porspektif misalnya mengolahnya dalam berbagai bentuk, dengan olahan yang beragam mulai dari susu pasteurisasi (Yogurt, Kefir, Dadih, Keju dan lain-lain) atau produk lain seperti Dodol susu, karamel susu, Steak susu, yang banyak ditemui di sentra-sentra produksi susu. Produk-produk susu tersebut diyakini masih mempunyai nilai gizi tinggi, khususnya kadar protein. Selain itu dapat sebagai bahan campuran berbagai olahan masakan, salah satunya adalah pada olahan kerupuk (kerupuk susu).
Kerupuk atau krupuk adalah makanan ringan yang di buat dari adonan tepung tapioka dicampur bahan perasa seperti udang atau ikan. Kerupuk dibuat dengan mengukus adonan sebelum dipotong tipis-tipis, dikeringkan dibawah sinar matahari dan digoreng dengan minyak goreng yang banyak. Adapun jenis-jenis kerupuk antara lain: Kerupuk udang, kerupuk bawang, kerupuk kulit, kerupuk mlarat, kerupuk jengkol, kerupuk gendar, kerupuk sanjai, kerupuk rengginang (Anonim, 2007)
Agar protein yang terdapat pada kerupuk bertambah susu sapi yang encer dicampur kedalam olahan tersebut. Warna, tekstur, dan rasapun berbeda. Meski kerupuk dengan pencampuran susu yang encer sudah mempunyai banyak kandungan gizi, tetapi perlu ditambahkan bahan lain untuk lebih meningkatkan kandungan gizinya, dan untuk penambahan protein ini dapat digunakan Onggok tapioka.
Onggok merupakan hasil samping dari pembuatan tapioka ubi kayu. Karena kandungan proteinnya yang cukup (  3,6 %) limbah tersebut belum dimanfaatkan orang (Tarmudji, 2004).
. Kandungan zat gizi onggok tapioka adalah 3,6 % protein kasar, 2,19% serat kasar, 0,33% lemak kasar, 0,01% Ca dan 0,33% Phospor.
Dan apabila penggabungan dua unsur yaitu unsur mutu rendah susu encer dan onggok tapioka maka kandungan protein kerupuk akan lebih meningkat.selain itu juga kerupuk tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu solusi pemanfaatan bahan-bahan kualitas rendah untuk dijadikan olahan kualitas tinggi dan lebih berdaya guna. Penambahan onggok tapioka pada pembuatan tempe kedelai mampu menaikkan kadar protein tempe (Ikawati, 2006).
Berdasarkan Latar Belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan Judul “UJI KUALITAS PEMANFAATAN SUSU MUTU RENDAH SEBAGAI CAMPURAN OLAHAN KERUPUK DENGAN PENAMBAHAN ONGGOK TAPIOKA TERHADAP KADAR PROTEIN KERUPUK”.

B.Pembatasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya permasalahan dalam penelitian perlu adanya pembatasan masalah sebagai berikut :
1.Subyek penelitian : Susu kualitas rendah (rusak atau encer) akan diolah kurang lebih satu jam setelah empat jam, delapan jam, dan dua belas jam, di perah.
2.Objek penelitian : Kerupuk susu dengan penambahan onggok tapioka.
3.Parameter dalam penelitian ini adalah Uji Organoleptik meliputi: Tekstur (kerapuhan), Warna, Rasa/Aroma dan kadar protein.

C.Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini perlu adanya perumusan masalah untuk mempermudah langkah-langkah pemecahan. Adapun rumusan masalah itu adalah :
1.Bagaimana kandungan protein dari pemanfaatan susu sapi berkualiatas rendah sebagai campuran kerupuk dengan penambahan onggok tapioaka ?

2.Bagaimana aroma warna, tekstur dari kerupuk susu dan kerupuk susu dengan penambahan onggok tapioka?

D.Tujuan Penelitian
1.Untuk mengetahui kandungan protein dan pemanfaatan susu sapi berkualitas rendah sebagai campuran dalam olahan kerupuk dengan penambahan onggok tapioka.
2.Untuk mengetahui aroma, warna, dan tektur dari kerupuk susu dengan penambahan onggok tapioka.

E.Manfaat Penelitian
Penelitian ini di harapkan dapat memberi manfaat antara lain :
1.Memberi sumbangan pemikiran dalam ilmu pengetahuan bahwa dalam pemanfaatan susu kualitas rendah ( encer ) menjadi olahan kerupuk susu dengan penambahan onggok tapioka
2.Meningkatkan nilai guna onggok tapioka sehingga lingkungan akan sehat dan bersih.

F.Tinjauan Pustaka
1.Susu
a.Pengertian Susu
Susu merupakan bahan pangan alami dengan nilai nutrisi yang lengkap dan telah di konsumsi oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Susu merupakan hasil sekresi kelenjar ambing atau mammae dari ternak. Susu diperoleh dari pemerahan ambing mamalia yang sehat mengandung yang sehat dan mengadung lemak, protein, laktosa, serta berbagai jenis garam dan vitamin. Susu adalah cairan yang bernilai gizi tinggi baik untuk manusia, hewan muda dan cocok untuk media tumbuh mikroorganisme karena menyediakan berbagai nutrisi (Susilorini, 2007)
Susu berasal dari semua hewan mamalia yaitu hewan yang mempunyai kelenjar ambing atau kelenjar susu. Dan ada lebih dari 10.000 spesies mamalia yang menghasilkan susu.(Nana,1998)
b.Komposisi Susu
Komposisi susu terdiri atas Air, lemak, dan bahan kering tanpa lemak. Sementara bahan kering tanpa lemak terdiri atas protein, laktosa, mineral, enzim, vitamin. Dimana prosentase atau jumlah dalam masing-masing komponen tersebut sangat bervariasi tergantung dari bangsa ternaknya (Rini, 2006)
Komposisi Susu lebih lengkap dari pada bahan pangan yang lain. Artinya Komponen-komponen yang di butuhkan oleh tubuh itu semuanya terdapat dalam susu. Dimana komponen-komponen utamanya adalah Protein, lemak, hidrat arang, Air (Hadiwiyoto,1994).
Tabel 1. Komponen kimiawi rata-rata susu sapi dan variasinya
Komponen
Rata-rata %
Variasi
Protein
3,6
29 – 5,0
Lemak
3,7
2,5 – 6,0
Gula/laktosa
4,8
3,6 – 5,5
Mineral
0,7
0,6 – 0,9
Air
87,2
85,5 – 89,5
Total Padatan
13,0
10,5 – 14,5
Sumber (Tri Eko, 2007)
Komponen terbanyak susu adalah Air, jumlahnya mencapai 84-89%. Air merupakan tempat terdispersinya komponen-komponen susu yang lain ( Ikawati, 2006)
c.Sifat-sifat air susu
Air susu yang normal atau sehat mempunyai sifat-sifat tertentu :
1).Warna
Warna air susu yang sehat adalah putih kekuning-kuningan dan tak tembus cahaya. Air susu yang berwarna dan agak merah atau biru, terlalu encer seperti air, adalah air susu yang tak normal.
a).Warna air susu yang kemerah-merahan memberi dugaan bahwa air susu tersebut berasal dari sapi yang menderita mastitis
b).Warna kebiruan menunjukkan bahwa air susu telah dicampur air terlampau banyak.
c).Sedang air susu yang berlendir, bergumpal, menandakan bahwa air susu tersebut sudah rusak ( asam ).
2).Bau dan Rasa
Air susu yang masih segar dan murni memiliki bau yang khas.
a).Bau yang asam menunjukkan bahwa air susu sudah basi, terlalu lama disimpan.
b).Air susu yang berbau busuk menandakan bahwa air susu sudah rusak sekali
c).Air susu yang rasanya asin, atau mungkin agak masam, pahit menunjukkan bahwa susu itu sudah mulai rusak.
d).Rasa hambar, berarti air susu itu banyak dicampuri air.
2.Onggok Tapioka
Singkong termasuk ubi akar yang mengandung cadangan energi dalam bentuk KH (amilum). Sumber KH banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Di beberapa daerah dikonsumsi sebagai makanan pokok. Sebagai pengganti nasi perlu mendapatkan cukup lauk-pauk untuk menambah protein. Zat gizi yang terkandung dalam 100 gr singkong adalah 154 kalori, 36,8 gr KH, 1 gr protein dan 0,3 gr lemak (Dyah, 2002).
Onggok merupakan limbah padat dari industri tapioka yang masih mengandung kadar tepung yang cukup tinggi. Produksinya cukup melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal, onggok dalam keadaan kering mengandung 0,01 % asam sianida, sedangkan kandungan zat gizinya adalah 3,6 % protein kasar, 2,19% serat kasar, 0,033% lemak kasar, 0,01% Ca dan 0,033% phospor. (Ikawati, 2006)
Onggok merupakan hasil samping dari pembuatan tapioka ubi kayu, proses pengolahan tepung tapioka, limbah yang di hasilkan berupa limbah padat dan limbah cair. Limbah ini mempunyai beberapa kegunaan bila diolah kembali. Kulit singkong dapat di manfaatkan untuk pakan ternak, sedangkan onggok (ampas) dapat digunakan sebagai bahan baku industri, asam sitrat, campuran kerupuk, obat nyamuk bakar dan pakan ternak (Anonim, 2000).


3.Pengujian Organoleptik
Pada makanan pengawasan dan evaluasi bahan makanan dapat dilakukan dengan mempergunakan berbagai cara (teknik salah satunya adalah evaluasi Organoleptik). Evaluasi Orgaoleptik adalah pemeriksaan dan penilaian (warna, bentuk, kondisi bersih atau kotor), peciuman (bau, aroma), peraba (tekstur), pendengaran dan pengecap (Soekanto,1999)
4.Kerupuk
a.Pengertian Kerupuk
Kerupuk atau krupuk adalah makanan ringan yang di buat dari adonan tepung tapioka dicampur bahan perasa seperti udang atau ikan.kerupuk dibuat dengan mengukus adonan sebelum dipotong tipis-tipis, dikeringkan di bawah sinar matahari dan di goreng dengan minyak goreng yang banyak.(Anonim, 2007)
Kerupuk bertekstur garing dan sering di jadikan pelengkap untuk berbagai makanan Indonesia seperti nasi goreng dan gado-gado. (Anonim, 2007)
b.Kerupuk Susu
Kerupuk susu adalah makanan ringan yang terbuat dari Susu yang memiliki nilai jual rendah karena memiliki kualitas yang rendah pula atau biasa di sebut sebagai Susu pecah (Datipah, 2007)
c.Macam-macam Kerupuk
Kerupuk biasanya di jual di dalam kemasan yang belum digoreng, dengan beragam jenis. Kerupuk udang dan kerupuk ikan adalah jenis kerupuk yang paling umum dijumpai di Indonesia. Kerupuk berharga murah atau kerupuk aci atau kerupuk mlarat hanya di buat dari adonan sagu di campur garam, bahan pewarna makanan, dan vetsin. Kerupuk kulit atau kerupuk ikan biasanya yang sulit mengembang ketika di goreng, perlu di goreng sebanyak dua kali. Kerupuk perlu di goreng terlebih dahulu dengan minyak goreng bersuhu rendah sebelum di pindahkan kedalam wajan berisi minyak goreng panas. (Anonim, 2007)
Jenis kerupuk yang lain seperti kerupuk kemplang, kerupuk gendar, kerupuk jengkol, kerupuk sanjai, kerupuk bawang putih, kerupuk rengginang, dan kerupuk susu yang bisa menjadi alternatif cemilan sehat.(Ifah, 2006)
d.Protein
1.Pengertian Protein
Protein adalah senyawa organik yang besar yang mengandung atom karbon, nitrogen, oksigen, hidrogen, dan beberapa diantaranya mengandung sulfur, phospor, besi atau mineral lain. (Khansan, 2003).
Protein disusun dari 23 atau lebih unit sederhana yang disebut asam amino artinya protein tersebut mengandung gugus asam atau karboksil (-COOH) dan gugus amino (-NH2) yang bersifat basa sehingga menyebabkan protein bersifat Amfoter yaitu mampu bersifat dan bereaksi sebagai basa dan asam. Dengan demikian protein mempunyai mekanisme untuk mencegah pembentukan pH yang tiba-tiba di dalam tubuh. Selain itu protein adalah senyawa organik yang berat molekulnya tinggi mengandung unsur-unsur C, H, O dan N, serta beberapa protein mengandung sulfur dan phospor (Dyah, 2002).
2.Jenis-jenis Protein
Jenis-jenis protein adalah protein nabati yaitu protein yang berasal dari tumbuhan, jenis protein ini banyak dan sangat bervariasi dalam bentuk sajian makanan sehat yang kaya akan protein yaitu tahu, tempe dan lain-lain. Jenis protein yang lain adalah protein hewani yaitu protein yang berasal dari hewan salah satunya banyak terdapat pada daging, telur dan pada kerupuk susu (Widowati, 2002).
3.Manfaat Protein
1.Membentuk jaringan baru dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tubuh.
2.Memelihara jaringan tubuh, memperbaiki serta mengganti jaringan yang rusak atau mati.
3.Mengatur keseimbangan air yang terdapat dalam 3 kompartemen yaitu intraseluler, ekstraseluler, dan intravasekuler.
4.Mempertahankan kenetralan /Asam basa tubuh (Edward, 1987).
4.Protein Susu
Protein Susu terdiri dari Kasein, Laktalbumin dan laktoglobulin. Kasein merupakan protein yang banyak jumlahnya dari Laktalbumin dan Laktoglobulin. Namun disamping ketiga jenis protein tersebut terdapat pula jenis-jenis protein lainnya sebagai enzim Imonoglobulin (Eko, 2000)

G. Kerangka Pemikiran


Penggodogan




H.Hipotesis Penelitian
Ada peningkatan kadar protein kerupuk dalam pengolahan kerupuk dengan memanfaatkan susu bermutu rendah dan penambahan onggok.

I.Metodelogi Penelitian
a. Tempat dan waktu penelitian
Pembuatan kerupuk susu di Musuk Boyolali.
b. Alat dan bahan
1. Pada dasarnya dalam penelitian ini alat di bagi menjadi 2 yaitu :
a. Alat pembuatan kerupuk susu antara lain :
Panci kecil, tampah, daun pisang, pisau, alat utuk menjemur, dandang pengukus, kompor, wajan besar.
b. Alat penelitian antara lain :
Gelas ukur, erlemenyer, pipet, spektrofotometer.
2. Adapun untuk bahan yang digunakan:
a).Bahan pembuatan kerupuk susu
Susu segar (yang sudah digumpalkan) atau tahu susu, telur, tepung tapioka, bawang putih, garam.
b).Bahan untuk analisis protein
10 gr sampel kerupuk susu, Biuret (NaOH 200 mmol/lt + Cu Sulfat 8 mmol/lt + KI 30 mmol/lt).
c. Pelaksanaan Penelitian
1.Pembuatan Kerupuk Susu
a. Menyiapkan alat dan bahan
b. Menggodog susu pecah sampai kempel (tahu susu)
c. Mencampur tahu susu ditambah tiga bagian tepung kanji, satu butir kuning telur serta bumbu-bumbu dalam suatu wadah.
d. Menguleni Adonan tersebut sampai homogen (rata)
e . Membungkus dengan daun pisang seperti membuat lemper
f. Mengukus diatas dandang sampai masak kurang lebih satu jam
g. Mengangkatnya setelah masak kamudian mendinginkannya.
h. Mengiris tipis-tipis
i. Menjemur kerupuk sampai kering
j. Menggoreng Kerupuk setelah benar-benar kering



2.Alur Pembuatan Kerupuk Susu.
Susu kualitas rendah (pecah)

Tahu susu / susu kempel

Pengulenan sampai homogen

Pembungkusan

Pengukusan (60 menit, perebusan)

Pendinginan

Pengirisan

Penjemuran

Penggorengan

Kerupuk susu



3.Pembuatan Kerupuk Susu dengan Penambahan Onggok Tapioka
a. Menyiapkan alat dan bahan.
b. Menggodog susu pecah sampai kempel (tahu susu).
c. Mencampur tahu susu di tambah Onggok Tapioka dengan takaran sesuai keperluan yaitu 20gr, 40gr, 60gr, yang mana masing-masing ditambahkan dalam satu liter susu sapi, satu butir kuning telur serta bumbu-bumbu dalam tiga tempat/wadah..
d. Menguleni adonan tersebut sampai homogen (rata).
e. Membungkus dengan daun pisang seperti membuat lemper.
f. Mengukus diatas dandang sampai masak kurang lebih satu jam.
g. Mengangkatnya setelah masak kamudian mendinginkannya.
h. Mengiris tipis-tipis.
i. Menjemur kerupuk sampai kering.
j. Menggoreng kerupuk setelah benar-benar kering.









4.Alur Pembuatan Kerupuk Susu dengan Penambahan Onggok Tapioka.
Susu kualitas rendah (pecah) Onggok tapioka(20gr, 40gr, 60gr)

Tahu susu / susu kempel

Pengulenan sampai homogen

Pembungkusan

Pengukusan (60 menit, perebusan)

Pendinginan

Pengirisan

Penjemuran

Penggorengan

Kerupuk susu



5. Analisis kadar protein
Menganalisis kadar protein menggunakan alat Spektofotometer, prosedur analisis kadar protein menimbang 10 gr sampel. Kerupuk susu dihaluskan kemudian dimasukkan dalam Labu takar 100 ml ditambahkan 1 ml reagen warna dan diinkubasi selama 30 menit dengan suhu 20 sampai 25oC, kemudian dibaca di Spektofotometer.
d.Rancangan Percobaan
Rancangan penelitian eksperimen dengan rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu:
Faktor 1 : Selang waktu pemerahan susu (S)
S0 : Tanpa selang waktu pemerahan susu (sebagai kontrol)
S1 : Selang waktu pemerahan susu 4 jam sebelum diolah.
S2 : Selang waktu pemerahan susu 8 jam sebelum diolah.
S3 : Selang waktu pemerahan susu 12 jam sebelum diolah.
Faktor 2 : Banyaknya Onggok tapioka (T)
T1 : Banyaknya Onggok tapioka 20 gr
T2 : Banyaknya Onggok tapioka 40 gr
T3 : Banyaknya Onggok tapioka 60 gr
Sehingga terdapat 12 kombinasi perlakuan :
S0T1 : Tanpa selang waktu pemerahan susu dengan banyaknya onggok tapioka 20 gr.
S0T2 : Tanpa selang waktu pemerahan susu dengan banyaknya onggok tapioka 40 gr.
S0T3 : Tanpa selang waktu pemerahan susu dengan banyaknya Onggok tapioka 60 gr.
S1T1 : Selang waktu pemerahan susu 4 jam sebelum diolah dengan banyaknya onggok tapioka 20 gr.
S1T2 : Selang waktu pemerahan susu 4 jam sebelum diolah dengan banyakya onggok tapioka 40 gr.
S1T3 : Selang waktu pemerahan susu 4 jam sebelum diolah dengan banyaknya onggok tapioka 60 gr.
S2T1 : Selang waktu pemerahan susu 8 jam sebelum di olah dengan banyaknya onggok tapioka 20 gr.
S2T2 : Selang waktu pemerahan susu 8 jam sebelum diolah dengan banyaknya onggok tapioka 40 gr.
S2T3 : Selang waktu pemerahan susu 8 jam sebelum diolah dengan banyaknya onggok tapioka 60 gr.
S3T1 : Selang waktu pemerahan susu 12 jam sebelum di olah dengan banyaknya onggok tapioka 20 gr.
S3T2 : Selang waktu pemerahan susu 12 jam sebelum diolah dengan banyaknya onggok tapioka 40 gr.
S3T3 : Selang waktu pemerahan susu 12 jam sebelum diolah dengan banyaknya onggok tapioka 60 gr.



Tabel.2: Rancangan Percobaan dengan Perlakuan konsentrasi Susu Sapi dan Konsentrasi Onggok tapioka.

No.
Perlakuan
Ulangan
Jumlah
Rata-rata
1
2
3
1
S0T1





2
S0T2





3
S0T3





4
S1T1





5
S1T2





6
S1T3





7
S2T1





8
S2T2





9
S2T3





10
S3T1





11
S3T2





12
S3T3













e.Pengujian Organoleptik
Penelitian uji organoleptik kerupuk susu dengan penambahan onggok tapioka yang meliputi tekstur, warna, kelayakan konsumsi sebagai cemilan sehat dengan menggunakan Parent Test sebanyak 20 panelis.
Tabel 3 :Skor Kriteria Penelitian Pengujian Organoleptik.
Organoleptik
Skor
1
2

Warna

Putih bersih
Putih kekuningan
Aroma/Rasa
Susu/Keras
Renyah

Tekstur

Kuat
Rapuh

J. Metode Pengumpulan Data
1.Metode Eksperimen
Yaitu: Peneliti melakukan percobaan langsung pembuatan kerupuk.

2.Metode Kepustakaan
Metode ini merupakan metode bantu dalam mencari materi dari buku-buku atau sumber-sumber yang di kutip secara langsung maupun tidak langsung. Metode ini digunakan dengan maksud untuk melengkapi landasan teori pembahasan yang digunakan dalam penyusunan proposal penelitian.
3.Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi ini menggunakan kamera untuk mendokumentasikan alat yang digunakan dan hasil penelitian.

K.Teknik Analisis Data
Data di analisis menggunakan Uji Anava 2 Jalur, kemudian bila ada beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan Uji Duncan’s Multiple Range Test ( DMRT )
Langkah analisis anava 2 jalur :
a.Menghitung jumlah kuadrat total (JKT)
JKT =
b.Menghitung jumlah kuadrat variabel A (JKA)
JKA =
c.Menghitung jumlah variabel kuadrat B (JKB)
JKB =
d.Menghitung jumlah kuadrat interaksi antar variabel A dengan B (JKAB)
JKAB =
e.Menghitung jumlah kuadrat galat (JKG)
JKD = JKT – JKA – JKB – JKAB
f.Menghitung dbA = A – 1
g.Menghitung dbB = B – 1
h.Menghitung dbAB = dbA x dbB
i.Menghitung dbT = N – 1
j.Menghitung dbD = dbT – dbA – dbAB
k.Menghitung mean kuadrat variabel A (MKA)
MKA =
l.Menghitung mean kuadrat variabel B (MKB)
MKB =
m.Menghitung mean kuadarat variabel A dan B (MKAB)
MKAB =
n.Menghitung Mean kuadrat dalam (MKD)
MKD =
o.Harga F hitung untuk variabel A (FA)
FA =
p.Harga F hitung untuk variabel B (FB)
FB =
q.Harga F hitung untuk variabel A danB (FAB)
FAB =
Langkah uji Duncan sebagai berikut :
a.Menulis rata-rata setiap perlakuan berdasarkan rangkingnya.
b.Menghitung standar error rata-rata perlakuan.
c.Menentukan jarak rata-rata treatment yang dibandingkan
d.Mengambil keputusan.





















DAFTAR PUSTAKA

Ali, Khansan. 2003. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Anonim.2007. Kerupuk. Jakarta : Wikimedia Indonesia
Anonim. 2006. Tepung Tapioka. Jakarta : Pusat Dokumentasi dan Informasi
Dyah, Widowati. 2002. Gizi Kuliner I. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Eirry, Sawitri. 2006. Macam – Macam Olahan Susu. Jakarta : Penerbit Penebar Swadaya

Manik, Eko. 2006. Olahan Susu. Jakarta : Pusat Unit Pangan Dan Gizi
Ikawati. 2006 .Kualitas Tempe Dengan Penambahan Onggok Tapioka. Surakarta : Universitas Muhammadyah Surakarta

Ifah. Datipah . Di Buang Sayang .Bandung : Wikimedia Indonesia
Kartika, Bambang. 1988. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. Yogyakarta :Penerbit Pusat Universitas Pangan dan Gizi

Soekanto, Soewarno. 1985. Penilaian Organoleptik. Jakarta : Penerbit Bharata Kata Aksara

Tarmudji. 2004. Pemanfaatan Onggok untuk Pakan Unggas. Bogor : Dimuat p ada Tabloid Sinar Tani

Tri Susilorini.2006. Produk Olahan Susu. Jakarta : Penerbit Penebar Swadaya
Tarwadjo, C. Soejoeti. 1998. Dasar-dasar Gizi Kuliner. Jakarta : PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia

Read More …
Read more...

Hubungan Keaktifan Ibu Hamil dalam Kegiatan Posyandu dengan Status Gizi Balita di Desa Jarum Kecamatan Sidoharjo Kabupaten A


A. Judul : Hubungan Keaktifan Ibu Hamil dalam Kegiatan Posyandu dengan Status Gizi Balita di Desa Jarum Kecamatan Sidoharjo Kabupaten A

B. Latar Belakang
Posyandu merupakan salah satu pelayanan kesehatan di desa untuk memudahkan masyarakat untuk mengetahui atau memeriksakan kesehatan terutama untuk ibu hamil dan anak balita. Keaktifan ibu pada setiap kegiatan posyandu tentu akan berpengaruh pada keadaan status gizi anak balitanya. Karena salah satunya tujuan posyandu adalah memantau peningkatan status gizi masyarakat terutama anak balita dan ibu hamil. Agar tercapai itu semua maka ibu yang memiliki anak balita hendaknya aktif dalam kegiatan posyandu agar status gizi balitanya terpantau.

C. Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara keaktifan ibu dalam kegiatan posyandu dengan status gizi balita di desa Jarum kecamatan Sidoharjo kabupaten A.

D. Tujaun Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan keaktifan ibu dalam kegiatan posyandu terhadap status gizi balita.
2. Tujuan Khusus
a. Mengukur frekuensi keaktifan ibu hamil dalam kegiatan posyandu.
b. Menghitung status gizi balita
c. Menganalisa hubungan keaktifan ibu dalam kegiatan posyandu terhadap status gizi balita


E. Manfaat Penelitian
1. Meningkatkan frekuensi keaktifan ibu terhadap kegiatan posyandu.
2. Memberi informasi mengenai hubungan keaktifan ibu dalam kegiatan posyandu dengan status gizi balita di desa Jarum kecamatan Sidoharjo kabupaten A
F. Kerangka Konsep

Penyakit Penyerta
Status Gizi Balita
Asumsi Makanan
Penyakit Penyerta
Keaktifan Ibu
Status Gizi Balita
Asumsi Makanan
Keaktifan Ibu
Faktor yang Mendukung
- Jarak
- Motivasi
- Reword
- Kader
Faktor Penghambat
- Pekerjaan
- Kebosanan












G. Kerangka Teori










H. Hipotesis Penelitilan
Ada hubungan antara keaktifan ibu dalam kegiatan posyandu dengan status gizi balita di desa Jarum kecamatan D kabupaten A
I. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional.

J. Populasi dan Sampel
Populasi adalah semua balita yang berusia 13 – 59 bulan yang tercatat sebagai warga desa Jarum kecamatan Sidoharjo kabupaten A sebanyak 60 balita.
Sampel adalah balita yang diambil secara random sampling dengan sample 50 balita.

K. Variabel Penelitian
Variabel bebas : keaktifan ibu dalam kegiatan posyandu
Variabel terikat : status gizi balita

L. Cara Pengupulan Data
1. Wawancara
2. Pengukuran ontometri
3. Melihat S desaF

Read More …
Read more...

monopause, MEDICAL, MEDICINE, HOSPYTAL, EMERGENCY

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Masa menopause merupakan fase yang selalu terjadi pada wanita yang menginjak umur 44 tahun dan ditandai dengan berhentinya haid. Terkadang wanita belum siap untuk menghadapi masa ini karena mereka selalu beranggapan bahwa seorang wanita yang telah mendapatkan/ mengalami menopause gairah seksualnya juga akan menurun. Dan hal ini yang dikhawatirkan oleh pasangan suami istri pada umumnya.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas maka kami akan menguraikan:
1. Apa pengertian Menopause?
2. Apa penyebab dan gejala-gejalanya?
3. Apakah Menopause mempengaruhi hubungan seksual wanita?
4. Bagaimana solusinya?

C. Tujuan
1. Mengetahui tentang Menopause.
2. Mengetahui penyebab dan gejala-gejala Menopause.
3. Mengetahu pengaruh Menopause terhadap hubungan seksual wanita.
4. Mengetahui solusi dari masalah Menopause.








BAB II
PEMBAHASAN ISI

A. Pengertian Menopause
Monopouse atau ketuaan bukanlah mitos. Keduanya merupakan kenyataan. Pengalaman perempuan dengan kedua kenyataan tersebut apakah penuh penderitaan atau tidak, tergantung bagaimana perasaan perempuan mengenai dirinya sendiri.
Kata monopouse berasal dari bahasa Yunani yang berarti “bulan” dan “penghentian sementara”. Berdasarkan definisinya, kata monopouse itu berarti masa istirahat. Sebenarnya secara linguistik, istilah yang lebih tepat adalah menocease yang berarti berhentinya masa menstruasi.
Monopouse ialah haid terakhir atau saat terjadinya haid terakhir. Diagnosis menopouse dibuat setelah terdapat amenovera sekurang-kurangnya satu tahun. Berhentinya haid dapat didahului oleh siklus haid yang lebih panjang dengan pendarahan yang berkurang. Umur waktu terjadinya monopouse dipengaruhi oleh keturunan, kesehatan umum, dan pola kehidupan.
Monopouse rupanya ada hubungannya dengan menarch. Makin dini menarch terjadi, makin lambat monopause timbul; sebaliknya makin lambat menarch terjadi, makin cepat menopause timbul. Pada abad ini umumnya nampak bahwa menarch makin dini timbul dan monopause makin lambat terjadi, sehingga masa reproduksi menjadi lebih panjang. Walaupun demikian di negara-negara maju rupanya menarch tidak lagi bergeser ke umur yang lebih muda, tampaknya batas maksimal telah tercapai. Monopause yang artificial karena operasi atau radiasi pada umumnya menimbulkan keluhan yang lebih banyak dibandingkan monopause alamiah.

B. Penyebab Menopause
Untuk memahami mengapa terjadi menopause, mengapa dan bagaimana menopause itu mempengaruhi perempuan, pertama-tama kita harus memiliki pemahaman dasar tentang sistem endokrin perempuan. Sistem endokrin adalah sistem yang mengatur semua zat penting didalam tubuh perempuan yang dikenal sebagai hormon. Dua hormon penting yang dihasilkan perempuan adalah esterogen dan progesterone. Salah satu bagian tubuh perempuan yang menghasilkan hormon estrogen adalah indung telur. Keduanya berfungsi dan diperlukan untuk pelepasan jaringan dinding rahim. Meskipun saling berhubungan dan berkaitan satu sama lain, hormon-hormon ini berbeda.
Salah satu hal istimewa mengenai tubuh perempuan ialah jika salah satu organ melemah maka organ yang lain akan membantu. Itu pula yang terjadi dengan persediaan esterogen perempuan. Ketika indung telur, yang merupakan bagian tubuh yang berhubungan erat dengan produksi esterogen, kehilangan sel-selnya (sama halnya dengan bagian-bagian lain dari tubuh kita sejalan dengan bertambahnya usia) maka kelenjar-kelenjar adrenalin akan mengambil alih sebagian produksi.
Oleh karenanya seorang perempuan yang mengalami menopause bukan berarti otomatis/ langsung menurun gairah seksualnya.

C. Gejala-gejala Menopause
Haid adalah peristiwa yang terjadi secara khas pada individu, baik dalam awal pertama kali terjadi, dalam siklus, jumlah darah yang keluar, maupun dalam gejala-gejala yang menyertainya. Demikian pula ketika terjadi menapause akan menimbulkan gejala-gejala yang berbeda pada tiap orang. Meskipun demikian, dapatlah dikatakan bahwa gejala-gejala menopause dapat berupa antara lain; insomnia, rasa panas (hot flash), banyak berkeringat, depresi, berkurangnya daya ingat, sulit menahan dorongan untuk kencing (inkontinensia).
Gejala lain yang menjadi tanda menopause adalah gangguan sembelit, gangguan punggung, dan tulang belulang, bengkak, linu serta nyeri.
Karena sifat gejala yang berbeda-beda pada tiap orang itu maka ada baiknya jika anda mencatat tanggal-tanggal haid anda serta gejala-gejala “yang tidak biasa” yang mungkin terjadi, setelah anda mencapai atau melampaui usia 40 tahun.

D. Pengaruh Menopause terhadap Hubungan Seksual Perempuan
Kehidupan seksual sesuadah menopause ternyata tidak mengalami perubahan pada 60% perempuan. Dua puluh persen diantaranya mengalami peningkatan keinginan seksual dan 20% lagi mengalami pengurangan. Karena tidak ada lagi resiko kehamilan, banyak perempuan mempunyai keinginan seksual yang lebih besar dan bahkan kadang memperbaiki hubungan antara pasangan. Memang, dalam kenyataannya nafsu seksual tidak ada hubungannya dengan produksi hormon pada saat atau sesudah menopause.
Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa perempuan masih tetap mempunyai nafsu seksual sampai pada usia yang lebih tua dibanding kaum laki-laki. Setiap tujuh diantara 10 pasangan di Amerika masih tetap melakukan senggama sesudah usia 60 tahun. Alasan utama berhentinya kegiatan seksual mereka biasanya disebabkan oleh adanya gangguan kesehatan, yang biasanya terjadi pada pihak laki-laki. Kendati demikian, sementara sebagian perempuan tidak mengalami perubahan pada keinginannya untuk berhubungan seks, sebagian lainnya tidak peduli jika ia tidak berhubungan dengan pasangannya selama berbulan-bulan.

E. Cara Mencegah Pemunculan Gejala-gejala Menopause
Tidak semua perempuan yang mengalami menopause memerlukan terapi estrogen pengganti, sebagian lagi hanya memerlukannya selama beberapa bulan, karena tidak semua peremuan mengalami gejala menopause yang demikian mengganggu sehingga memerlukan estrogen pengganti.
Di masyarakat Asia pada umumnya, gejala menopause tidak banyak dikeluhkan karena secara kultural orang-orang yang menjadi lanjut usia justru mendapatkan kedudukan sosial yang terhormat. Perempuan yang masih tetap aktif ketika memasuki masa menopause juga tidak mengalami gejala menopause yang berarti.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat mencegah pemunculan gejala-gejala menopause.
1. Olah Raga (exercising)
Tetap berusaha agar hidup aktif akan menekan gejala insomnia, memperlambat osteoporosis dan penyakit jantung, dan juga mencegah “hot flashes”.
2. Berhenti Merokok
Merokok sebenarnya ikut mempercepat munculnya menopause. Berhenti merokok juga akan meringankan gejala-gejala menopause.
3. Mengkonsumsi Kalsium
Perempuan, terutama menjelang usia-usia menopause, sebaiknya mengkonsumsi kalsium sebanyak 1000-1500 gram seharinya. Sebagian besar dapat diperoleh dari makanan, seperti susu, yoghurt, beberapa jenis sayuran (antara lain brokoli). Kalau jumlah kalsium dari makanan kurang mencukupi, dapat juga memakan tablet kalsium.
4. Vitamin Tambahan
Sebagian besar vitamin yang diperlukan tubuh sudah diperoleh melalui makanan kita sehari-hari. Tetapi adakalanya terutama mereka yang aktif, memerlukan juga tambahan vitamin. Vitamin yang diperlukan antara lain B1, B2, B12, asam folat dan terutama bagi mereka yang menginjak usia menopause memerlukan vitamin-vitamin aktioksidan seperti vitamin A dan E.
5. Kedelai
Kedelai mengandung fitoestrogen atau estrogen yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kedelai dapat kita konsumsi dari kecap, tempe, tahu, tauco atau susu kedelai.

F. Cara Memperlambat Datangnya Menopause
Datangnya menopause memang tidak dapat dihindari dan itu tidak perlu membuat diri kita cemas. Tapi ada persiapan-persiapan yang bisa kita lakukan untuk memperlambat kedatangannya, antara lain:
1. Berolah raga secara teratur
Olah raga selain membantu mengurangi datangnya gejala awal menopause, dapat pula meningkatkan kekuatan tulang. Mulailah dengan olah raga seperti jalan kaki, jogging, meditasi dan yoga.
2. Mengkonsumsi makanan yang kaya akan kalsium
Mengkonsumsi makanan seperti susu, keju dan kacang-kacangan dapat mengurangi kekeroposan tulang.
3. Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin seperti buah-buahan dan sayuran.
Vitamin yang terkandung dalam buah-buahan dan sayuran dapat meningkatkan kesehatan tubuh.
4. Mengurangi konsumsi kopi, teh, minuman soda, dan alcohol.
Minuman ini banyak mengandung kafein yang dapat memperlambat penyerapan kalsium.
5. Menghindari rokok
Merokok dapat menyebabkan terjadinya menopause lebih awal dan memudahkan kita terkena osteoporosis.
Berkurangnya produksi hormon esterogen pada masa menopause saat ini sudah dapat diantisipasi dengan memberikan hormon estrogen dari luar atau yang lebih dikenal dengan sebutan hormon replacement therapy.











BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:
1. Menopause adalah berhentinya masa menstruasi pada wanita yang rata-rata umurnya mencapai 50 tahun dengan rentang antara 48 dan 52 tahun.
2. Penyebab Menopause adalah adanya degenerasi atau penuaan secara alamiah pada organ reproduksi wanita.
3. Gejala-gejala menopause meliputi rasa panas, sembelit, gangguan tulang, sakit kepala, bengkak, linu dan rasa nyeri.
4. Nafsu seksual tidak ada hubungannya dengan produksi hormon pada saat atau sesudah menopause.
5. Menopause tidak dapat dicegah tetapi gejala-gejala menopause dapat ditekan dengan terapi estetogen pengganti, olah raga, berhenti merokok, mengkonsumsi kalsium, vitamin tambahan dan kedelai.

B. Saran
Dari sedikit penjelasan diatas, kiranya penulis dapat memberikan saran sebagai berikut:
1. Sebaiknya seorang wanita yang umurnya sudah mendekati 40 tahun harus berolahraga secara teratur, mengkonsumsi kalsium dan vitamin-vitamin yang berguna bagi tubuh agar masa menopausenya tidak terlalu cepat.
2. Sebaiknya seorang waniya mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi masa menopause.






 

Read More …
Read more...

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MASALAH ELIMINASI

ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN MASALAH ELIMINASI


A. Pengertian
Penyakit ginjal utamanya akan berdampak pada sistem tubuh secara umum. Salah satu yang terserinag ialah gangguan urine. Gangguan eliminasi urine kemungkinan disebabkan (Supratman. 2003)
1.Inkopenten outlet kandung kemih;
2.Penurunan kapasitas kandung kemih;
3.penurunan tonus otot kandung kemih;
4.Kelemahan otot dasar panggul.
Beberapa masalah eliminasi urine yang sering muncul, antara lain :
1.Retensi
2.Enuresis
3.Inkontinensis
4.Perubahan pola

B.Retensid Urine
1.Pengertian
Ialah penumpukan urine acuan kandung kemih dan ketidaksanggupan kandung kemih untuk mengosongkan sendiri.
Kemungkinan penyebabnya :
Operasi pada daerah abdomen bawah.
Kerusakan ateren
Penyumbatan spinkter.
2.Tanda-tanda
Ketidak nyamanan daerah pubis.
Distensi dan ketidaksanggupan untuk berkemih.
Urine yang keluar dengan intake tidak seimbang.
Meningkatnya keinginan berkemih.

3.Rencana Tindakan
Kemungkinan latihan kembali kandung kemih atau pengkondisian kembali.
Ajarkan individu meregangkan abdomen dan melakukan manuver vaiava’s.
Ajarkan manuver crede’s
Ajarkan individu regangan anal.
Mengintruksikan individu untuk mencoba ketiga teknik untuk menentukan yang mana yang paling efektif dalam mengosongkan kandung kemih.
Catatan masukan dan keluaran teknik mana yang digunakan untuk menimbulkan berkemih.

C.Tinusis
1.Pengertian
Ialah keluarnya kencing yang sering terjadi pada anak-anak umumnya malam hari.
Kemungkinan peyebabnya :
Kapasitas kandung kemih lebih kecil dari normal.
Kandung kemih yang irritable
Suasana emosiaonal yang tidak menyenangkan
ISK atau perubahan fisik atau revolusi.
2.Rencana Tindakan
a.Jelaskan sifat enuresis pada orang tua dan anak
b.Jelaskan pada orang tua bahwa rasa tidak setuju adalah hal yang tidak menghentikan enuresis tetapi akan membuat anak jadi malu, dan takut.
c.Tawarkan keyakinan pada anak bahwa anak lain pu membasahi tempat tidur mereka dimalam hari.
d.Ajarkan :
Beri dorongan untuk menunda berkemih.
Menyuruh anak berkemih sebelum tidur.
Membatasi cairan selama waktu tidur.
Jika anak terbangun malam hari untuk berkemih kuatkan dorongan itu
TeNtang sensasi saat waktu berkemih
Kemampuan anak dalam mengontrol perkemihan.

D.Inkontinesia Urine
Ialah bak yang tidak terkontrol.
Jenis inkotinensio
1.Inkontinensio Fungsional/urge
a.Pengertian
Ialah keadaan dimana individu mengalami inkontine karena kesulitan dalam mencapai atau ketidak mampuan untuk mencapai toilet sebelum berkemih.
b.Faktor Penyebab
Kerusakan untuk mengenali isyarat kandung kemih.
Penurunan tonur kandung kemih
Kerusakan moviliasi, depresi, anietas
Lingkungan
Lanjut usia.
c.Rencana tindakan
Kaji kemundura sensori
Kaji kemunduran motorik
Kurangi hambatan lingkungan
Ajarkan toileting untuk individu dengan kemundura kognitif
Ajarkan toileting untuk individu dengan keterbatasan fungsi tangan.

2.Inkontinensia Stress
a.Pengertian
Ialah keadaan dimana individu mengalami pengeluaran urine segera pada peningkatan dalam tekanan intra abdomen.

b.Faktor Penyebab
Inkomplet outlet kandung kemih
Tingginya tekanan infra abdomen
Kelemahan atas peluis dan struktur pengangga
Lanjut usia.
c.Rencana tindakan
Kaji pola berkemih dan masukan cairan.
Latihan kekuatan dengan latihan kegel.
Ajarkan untuk mengurangi tekanan infra abdomel
Ajarkan untuk menghentikan dan memulai aliran urin tiap kali berkemih.

3.Inkontinensia Total
a.Pengertian
Ialah keadaan dimana individu mengalami kehilangan urine terus menerus yang tidak dapat diperkirakan.
b.Faktor Penyebab
Penurunan Kapasitas kandung kemih.
Penurunan isyarat kandung kemih
Efek pembedahan spinkter kandung kemih
Penurunan tonus kandung kemih
Kelemahan otot dasar panggul.
Penurunan perhatian pada isyarat kandung kemih
c.Rencana tindakan
Pertahankan hidrasi yang optimal
Tingkatkan berkemih
Berikan motivasi untuk meningkatkan kontrol kandung kemih.
Kaji partisipasi individu dalam program latihan ulang kandung kemih.
Kaji pola berkemih
Ajarkan pencegahan infeksi saluran kemih.
E.Perubahan Pola
1.Frekuensi
Meningkatnya frekuensi berkemih karena meningkatnya cairan.
2.Urgency
Perasaan seseorang harus berkemih.
3.Disaria
Adanya rasa sakit atau kesulitan dalam berkemih.
4.Urinari Suprei
Keadaan yang mendesak dimana produksi urine sangat kurang.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito. 2000. Diagnosa Keperawatan. EGC : Jakarta.
Supratman. 2000. askep Klien Dengan Sistem Perkemihan.
Swearingen. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta.
www.kompas.com

Read More …
Read more...

CONTOH LATAR BELAKANG TENTANG KEPERAWATAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Seorang perawat adalah sebagai tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum. Dalam menghadapi pasien, seorang perawat harus mempunyai etika, karena yang dihadapi perawat adalah juga manusia. Perawat harus bertundak sopan, murah senyum dan menjaga perasaan pasien. Ini harus dilakukan karena perawat adalah membantu proses penyembuhan pasien bukan memperburuk keadaan. Dengan etika yang baik diharapkan seorang perawat bisa menjalin hubungan yang lebih akrab dengan pasien. dengan hubungan baik ini, maka akan terjalin sikap saling menghormati dan menghargai di antara keduanya.
Etika dapat membantu para perawat mengembangkan kelakuan dalam menjalankan kewajiban, membimbing hidup, menerima pelajaran, sehingga para perawat dapat mengetahui kedudukannya dalam masyarakat dan lingkungan perawatan. Dengan demikian, para perawat dapat mengusahakan kemajuannya secara sadar dan seksama.
Oleh karena itu dalam perawatan teori dan praktek dengan budi pekerti saling memperoleh, maka 2 hal ini tidak dapat dipisah-pisahkan.
Sejalan dengan tujuan tersebut, maka dapat dikemukakan bahwa nama baik rumah sakit antara lain ditentukan oleh pendapat/kesan dari masyarakat umum. Kesehatan masyarakat terpelihara oleh tangan dengan baik, jika tingkatan pekerti perawat dan pegawai-pegawai kesehatan lainnya luhur juga. Sebab akhlak yang teguh dan budi pekerti yang luhur merupakan dasar yang penting untuk segala jabatan, termasuk jabatan perawat.

B.RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan yang ditetapkan adalah :
1.Apa arti budi pekerti dalam perawatan ?
2.Apa saja syarat-syarat menjadi perawat yang baik ?
3.Bagaimana tahap-tahap proses keperawatan ?
4.Seberapa penting peranan moral bagi perawat dalam menghadapi pasien ?
5.Bagaimanakah para perawat baru menyesuaiakan diri dengan lingkungan baru (rumah sakit) ?
6.Bagaimana sikap dan pribadi yang baik dalam pekerjaan ?

C.TUJUAN
Makalah ini akan mengarahkan kajiannya secara mnedalam yaiotu :
1.Untuk mengetahui arti budi pekerti dalam perawatan
2. Untuk mengetahui syarat-syarat menjadi perawat yang baik
3.untuk mengetahui tahap-tahap proses keperawatan
4.untuk mengetahui pentingnya moral bagi perawat
5.untuk mengetahui cara-cara menyesuaikan diri di Rumah Sakit oleh para perawat baru

D.MANFAAT
Berdasarkan rumusan masalah yang di susun di atas, maka manfaat yang diperoleh adalah :
1.Memberi pelajaran / pengertian kepada perawat arti budi pekerti dalam perawatan
2.Memberi saran kepada calon perawat, syarat-syarat menjadi perawat yang baik
3.Memberikan informasi kepada perawat tentang tahap-tahap proses keperawatan
4.Memberi informasi kepada perawat, pentingnya memiliki moral yang baik dalam menjalankan tugas
5.Memberi informasi kepada calon perawat, cara-cara adaptasi terhadap lingkungan kerja baru
6.Memberi pengertian kepada perawat, sikap dan pribadi yang baik dalam pekerjaan




BAB II
KAJIAN TEORITIK

Pada kajian teori ini penulis akan menguraikan beberapa hal yang berkaitan dengan permasalahan di atas.
A.Arti Budi Pekerti Dalam Perawatan
Yang dimaksudkan dengan budi pekerti itu umumnya kelakuan dan akhlak seseorang yang ditetapkan oleh tradisi, adat, dan kebiasaan.
Budi pekerti dalam perawatan khususnya berarti tata susila yang berhubungan dengan cita-cita adat dan kebiasaan yang mempengaruhi seorang perawat dalam menunaikan pekerjaannya. Seperti pekerjaan keahlian lain-lainnya, pekerjaan para dokter dan perawat mengandung tata susila yang khusus. Oleh karena itu budi pekerti penting dalam rencana pelajaran sekolah-sekolah perawat.
1.Faedah Budi Pekerti bagi Perawat
Dasar-dasar budi pekerti yang sehat sangat dibutuhkan untuk kepribadian yang baik. Bagi anggota perawat, kepribadian yang baik adalah penting, sebab kepribadianlah yang dapat menentukan dalam kehidupan.
Kata “perawatan” dalam hal ini berhubungan dengan orang sakit. Dan arti “seorang perawat” adalah seorang yang terampil memberikan pelayanan/perawatan, baik terhadap orang sakit dengan penuh kasih sayang, maupun terhadap orang sehat. Sehingga orang tersebut tidak mudah terkena suatu penyakit.
Jabatan perawat memerlukan tenaga dan pikiran, kemauan dan kesungguhan hati. Nama “perawat” harus dijunjung tinggi. Bukan untuk sekarang saja, tetapi juga untuk kemudian hari. Untuk menjadi seorang perawat yang baik, yang dapat menghadapi segala kesukaran hidupnya sehari-hari, ia harus mempunyai akhlak yang sehat. Dengan kata lain ia harus berpribadi luhur.
Perawatan bukan saja merupakan keahlian untuk sekedar mencari nafkah, akan tetapi mengingat tujuannya juga merupakan pekerjaan yang suci.

2.Faedah Budi Pekerti yang Luhur Bagi Penderita
Perlu dihindarkan anggapan bahwa perawat sengaja bermaksud mengubah kepercayaan kepada penderita. Bilamana hal ini tejadi akan mengakibatkan buruknya hubungan antara perawat dengan penderita. Selain itu akan dapat menimbulkan pula perasaan-perasaan kurang senang yang berlebih-lebihan.
Akan tetapi seorang perawat yang mempunyai budi pekerti yang luhur dan menjalankan pekerjaannya dengan baik, tak akan luput pengaruh baiknya pada penferita yang dirawatnya. Amal jasmani dan rohani yang diberikan dengan penuh kerelaan oleh perawat kepada penderita, merupakan faktor penting untuk kesembuhan penderita tersebut.
Seringkali perawat diajukan pertanyaan-pertanyaan yang bertalian dengan pengertian akhlak dan kerohanian oleh penderita. Dalam hal ini, perawat bisa menjadi penolong yang berguna untuk memberi kekuatan jiwa terutama kepada mereka yang tak akan sembuh lagi.
Perawat yang berbudi pekerti luhur, akan sangat disenangi pasien. Karena pasien merasa benar-benar dirawat dengan baik, penuh kasih sayag. Selain itu pasien sangat membutuhkan perhatian secukupnya, yang mungkin tidak diperolehnya karena kesibukan pekerjaannya.
Banyak penderita yang dirawat seharusnya mendapat kesempatan untuk memperoleh lebih banyak pengetahuan mengenai kerohanian dan akhlak yang baik. Mereka seharusnya mendapat kesempatan mempunyai cita-cita hidup sehat.

B.Syarat Menjadi Perawat yang Baik
Seorang siswa pada permulaan masuk sekolah perawatan mempunyai keinginan untuk mengetahui bagaimana caranya untuk menjadi eprawat yang baik.
Dalam memilih sauatu keahlian, seseorang harus mendapat kepuasan dalam lapangan pekerjaan pilihannya itu. Pekerjaan seorang perawat adalah pekerjaan manusiawi untuk menolong sesama manusia agar mendapat kesehatan yang tinggi dan untuk mengadakan lingkungan yang sehat bagi penederita maupun orang sehat. Perawatan adalah pekerjaan yang berguna dan penting, serta dapat memberi kepuasan batin bagi orang-orang yang memasukinya.
Perawat perlu mengatasi keperluan-keperluan dalam merawat penderita secara langsung/tidak langsung. Misalnya mengenai sikapnya, karean menghadapi penderita dari bermacam-macam tingkatan, umur, dan lain-lain. Maka perlu diperhatikan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan jasmani maupun rohani penderita, sehingga bila penderita itu memerlukan pertolongan dapat diberikan secara cepat. Perawat harus dapat mmeberi bimbingan hidup sehat kepada penderita.
Dari uraian-uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan secara lebih spesifik. Syarat-syarat untuk menjadi perawat yag baik adalah :
1.Berminat terhadap perawatan, sehingga perawat dapat memberikan kepuasan perawatan pada penderita
2.Mempunyai rasa kasih sayang
3.Mempunyai rasa sosial dan tabiat ramah
4.Mempunyai kemampuan untuk menjaga nama baik perawat dan rumah sakit
5.Berpikiran dan berkelakuan baik serta berbadan sehat agar supaya sanggup menjalankan pekerjaannya.



C.Proses Perawatan
Proses perawatan merupakan kerangka kerja perawat sat ia memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Ini berarti proses keperawatan adalah pendekatan yang dipergunakan oleh perawat saat ia merawat pasien.
Proses keperawatan merupakan pendekatan kerja yang sistematis, terorganisasi, fleksibel dan berkelanjutan. Umumnya proses keperawatan yang kita kenal terdiri dari 4 tahap : pengkajian  perencanaan  pelaksanaan  evaluasi.
Namun yang dikemukakan oleh Gebby dan Lavin (1975) yang dikutip oleh Patrica A. Potter dan Anne Q. Perry dalam “Fundamentals of Nursing”, 1985 adalah terdiri dari 5 tahap, yaitu :
1. Tahap I : pengkajian
2. Tahap II : penegakan diagnosa keperawatan
3. Tahap III : menetapkan rencana asuhan keperawatan
4. Tahap IV : melaksanakan tindakan yang direncanakan
5. Tahap V : mengevaluasi asuhan keperawatan
Pembahasan lebih lanjut adalah sebagai berikut :
1.Tahap pengkajian
Dalam tahap ini ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan :



a.Mengumpulkan data tentang pasien
(a.1). Data dasar atau data terfokus (aspinal and tanner, 1985 yang dikutip oleh Rosalinda Alfaro dalam Application of Nursing Process A Step-by-Step Guide; 1986)
Data dasar adalah data yang menyangkut semua aspek dari data – data tersebut, antara lain : biografi, riwayat kesehatan keluarga, riwayat kesehatan lingkungan, psikososial, kebiasaan sehari-hari, hasil pemeriksaan fisik seluruh sistem aktivitas sehari-hari, psikologis sosial dan aspek spriritual.
Data terfokus adalah : data yang difokuskan pada masalah kesehatan yang daialami pasien saat itu. Misal : pasien mengalami gangguan penglihatan, maka pengkajian yang difokuskan adalah pada fungsi penglihatan pasien.
(a.2). Data subjektif dan data objektif
Data subjektif adalah : data yang dikeluhkan oleh pasien artinya, data subjektif didapat dari penuturan pasien.
Data objektif adalah : data yang dapat diukur, dilihat, diraba, didengar, ditimbang dan di baui.
Contoh data subjektif dan objektif :
Data subjektif : fungsi sensoris, pasien mengeluhkan “penglihatan saya terasa kabur dan kadang berkunang-kunang”
Data objektif : pada pemeriksaan mata ditemukan visus OD = min ½ , visus OS = min ¼ , sklera warna merah.
b.Mentabulasi data : data yang dikumpulkan lalu ditabulasi.
c.Menganalisa data : data setelah ditabulasi, segera dianalisa sehingga didapati suatu kesimpulan yang dirumuskan ke dalam bentuk diagnosa keperawatan.
2.Tahap menegakkan diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan pada dasarnya adalah kesimpulan dari masalah kesehatan yang dialami pasien. Masalah kesehatan yang dialami pasien dibagi atas 3, yaitu :
a.Masalah keperawatan / diagnosa keperawatan (dirangkum Rosalida Alfaro (1986) dari Gordon (1976), Schoe maker (1978) dan carpenitao (1985)) adalah sebagai berikut :
“Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan nyata atau potensial (pada individu, keluarga, kelompok). Dimana perawat dapat secara sah dan mandiri menanganinya dalam bentuk tindakan keperawatan yang ditujukan untuk mencegah, mengatasi/mengurangi masalah tertsebut”.
b.Masalah yang berbentuk kolaboratif (Rosalinda alfaro (1986))
“Masalah kolaboratif adalah masalah yang nyata yang mungkin terjadi akibat komplikasi dari penyakit/dari pemeriksaan/akibat pengobatan penyakit dalam, yang mana masalah tersebut hanya bisa dicegah, diatasi/dikurangi dengan tindakan-tindakan keperawatan yang bresifat kolaboratif”.

3.Tahap menetapkan rencana asuhan keperawatan
Saat menetapkan rencana asuhan keperawatan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :
a.Menentukan urutan prioritas masalah
Untuk menentukan urutan prioritas masalah kita dapat merujuk kepada hirarkhi kebutuhan dasar emnurut Maslow, berdasarkan masalah yang nyata dan berdasarkan keiginan pasien. Masalah perlu diprioritaskan, karena tidak mungkin mengatasi semua masalah pada sat yang bersamaan.
Misal : urutan prioritas diagnosa keperawatan yang berkenaan dengan kelainan fungsi pernapasan menempati urutan lebih tinggi dari pada yang berkenaan dengan kelainan fungsi pencernaan.
b.Menentukan tujuan yang akan dicapai
Dalam tahap ini ditentukan tujuan yang ingin dicapai biasanya dalam bentuk tingkah laku dan berorientasi pada tingkah laku pasien.
Misal : setelah perawatan intensif 2 minggu, pasien dapat berjalan memakai tongkat tanpa bantuan.
c.Menentukan rencana tindakan keperawatan
Tindakan keperawatan dapat berbentuk observasi, penyuluhan, pencatatan, rujukan/berbentuk prosedur-prosedur keperawatan lainnya.
Misal : - Kaji dan catat tanda-tanda vital setiap 6 jam
Kaji dan ganti sprei bila basah/kotor
Beri minum sebanyak 2500 ml/24 jam dan catat
d.Menentukan kriteria hasil
Kriteria hasil perlu ditentukan karena berguna untuk mengukur hasil yang dicapai setelah menjalani perawatan. Bila hasil yang dicapai sesuai dengan kriteria hasil yang ditetapkan berarti tindakan keperawatan yang kita lakukan terhadap pasien tersebut cukup berhasil.
Misal :
Cairan 2500 ml habis dikonsumsikan oleh pasien dalam 24 jam
Tanda-tanda vital termonitor dan tercatat pada jam 06.00, jam 12.00, jam 18.00 dan jam 24.00

4.Tahap melaksanakan tindakan keperawatan
Pada tahap ini ada beberapa tahap yang perlu dikerjakan :
Pertama : menerapkan tindakan-tindakan keperawatan yang ada dalam rencana. Tindakan-tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan dicatat dalam format catatan perawat.
Kedua : mengisi format asuhan keperawatan
5.Tahap mengevaluasi asuhan keperawatan
Evaluasi mencakup semua tahap dalam proses keperawatan. Evaluasi dibagi 2 jenis, yaitu :
a.Evaluasi berjalan
Dikerjakan dalam bentuk pengisian format catatan perkembangan dengan berorientasi kepada masalah yang dialami dan oleh pasien.
b.Evaluasi akhir
Dikerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang akan dicapai dengan hasil nyata yang dicapai. Bila ada kesenjangan diantara keduanya, mungkin semua tahap dalam proses keperawatan perlu ditinjau kembali agar didapat data-data, masalah/rencana yang perlu dimodifikasi.
Demikian tahap-tahap dalam proses keperawatan. Seorang perawat pasti mampu melaksanakan semua ini, jika ia benar-benar mencintai pekerjaannya. Disamping tetap berbudi pekerti yang luhur dan beretika sesuai dengan etika dalam perawatan.

D.Pertimbangan Moral Bagi perawat dalam Menjalankan Tugasnya
Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh para anggota suatu masyarakat tertentu sebagai “yang salah” atau “yang benar” (Berkowit Z, 1964).
Pertimbangan moral adalah penilaian tentang benar dan baiknya sebuah tindakan. Akan tetapi tidak semua penilaian tentang “baik” dan “benar” itu merupakan pertimbangan moral, banyak diantaranya justru merupakan penilaian terhadap kebaikan / kebenaran, estetis, teknologis / bijak.
Jadi jelas bahwa seorang perawat harus benar-benar mempertimbangkan nilai-nilai moral dalam setiap tindakannya. Seorang perawat harus mempunyai prinsip-prinsip moral, tetapi prinsip moral itu bukan sebagai suatu peraturan konkret untuk bertindak, namun sebagai suatu poedoman umum untuk memilih. Maksudnya bahwa prinsip moral dapat digunakan untuk memilih apakah tindakan-tindakan yang dilakukan perawat itu benar atau salah. Beberapa kategori prinsip diataranya :
Kebijakan (dan realisasi diri)
Kesejahteraan orang lain
Penghormatan terhadap otoritas
Kemasyarakatan / pribadi-pribadi
Dan keadilan
Seorang perawat harus mempunyai rasa kemanusiaan dan moralitas yang tinggi terhadap sesama. Karena denan begitu, antara perawat dan pasien akan terjalin hubungan yang baik. Perawat akan merasakan kepuasan batin, bila ia mampu membantu penyembuhan pasien dan si pasien sendiri merasa puas atas pelayanan perawatan yang diberikan, dengan kata lain terjadi interaksi antara perawat dan pasien.
Selain prinsip-prinsip moralitas yang dikemukakan di atas, ajaran moralitas dapat juga berdasarkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila, misalnya dalam sila I dan sila II.
1.Sila I (KeTuhanan Yag Maha Esa)
Bahwa kita meyakini akan adanya Tuhan (Allah SWT), yang akan selalu mengawasi segala tindakan-tindakan kita. Begitu juga denan perawat. Bila perawat melakukan Malapraktik, mungkin ia bisa lolos dari hukuman dunia. Tetapi hukum Tuhan sudah emnanti di sana (akhirat).
Jadi perawat harus mampu menjaga perilaku dengan baik, merawat pasien sebagai mana mestinya.
2.Sila II (Kemanusiaan Yang dail dan Beradab)
Di sini jelas bahwa moralitas berperan penting, khususnya moralitas perawat dalam menangani pasien. Perawat harus mempu bersikap adil dalam menghadapi pasien, baik itu kaya-miskin, tua-muda, besar-kecil, semua diperlakukan sama, dirawat sesuai dengan penyakit yang diderita pasien.







BAB III
ADAPTASI DI LINGKUNGAN BARU

Jika seorang memasuki pendidikan perawat, ia akan banyak menghadapi masalah yang baru. Orientasi dalam pendidikan dan pekerjaan merupakan jalan utama untuk dapat meyesuaiakan diri dalam lingkungan yang baru ini. Menyesuaikan diri berarti dapat memberi dan menerima dari lingkungannya.
Beberapa pedoman untuk meyesuaikan diri dalam lingkungan perawatan :
1.Menaati peraturan dan tata tertib yang ada di Rumah Sakit
2.Menurut dan menerima nasihat sebagai kebenaran dan keperluan meskipun belum dimengerti betul
3.Mencoba melihat segala sesuatu dari sudut atasan yang bertanggung jawab serta mencoba menempatkan diri di dalam pikiran dan perasaan si askit
4.Jujur dalam lahir batinnya dan tidak mementingkan diri sendiri
5.Memberi perhatian kepada apa yang dikatakan oleh atasan
Suasana Rumah Sakit biasanya dipengaruhi oleh anggota perawat yang ada pada lingkungan itu. Baik buruknya suasana tersebut antara lain ditentukan oleh kelakuan, sikap, akhlak dan semangat para perawat sehari-hari baik di dalam maupun di luar dinas. Disamping itu, suasana tersebut juga tergantung pada pimpinan, kegiatan, kegembiraan bekerja, sikap dan perbuatan pegawai-pegawainya sendiri.


A.Cara bergaul
Bagi perawat baru, cara bergaul ini penting artinya untuk menyesuaikan diri. Di Rumah Sakit sering akan dijumpai hal-hal yang dirasakan “ganjil” atau “aneh” mengenai adat kebiasaan orang yang belum pernah dikenal. Mungkin pribadi perawat sendiri juga akan dirasakan aneh/ganjil oleh orang lain. Rasa aneh semacam itu tidak usah menimbulkan rasa canggung.
Untuk dapat bergaul dengan baik, wajib menjalankan tata cara yang pantas. Kesopanan atas dasar saling menghormati dapat menjaga kemurnian pergaulan.
Pada abad 20 ini hampir tidak ada perbedaan wanita dan laki-laki dalam melaksanakan pekerjaan. Perawat laki-laki hampir sama banyaknya dengan perawat wanita. Tetapi batas pergaulan antara pemuda pemudi hendaknya selalu diperhatikan.
Tiap-tiap orang (pria/wanita), mempunyai kewajiban sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuannya. Antara pria dan wanita ada adaya saling tarik. Tetapi dengan adanya peradaban dan pendidikan, daya tarik menarik ini dapat dibina sebagai naluri yang murni. Pergaulan antara gadis dan pemuda yang sopan, selalu disertai kewaspadaan dan menjaga kehormatan masing-masing.
Dalam hal bercakap-cakap, seorang perawat juga harus mempunyai etika, misalnya bila sedang bercakap-cakap hendaknya ia memandang muka lawan bicara dan mendegarkan dengan penuh perhatian, memberi kesempatan orang lain berbicara dengan tenang. perawat sendiri hendaknya berbicara dengan suara yang sedang, tenang tetapi tegas, tidak ribut tetapi juga tidak memperlihatkan rasa malu / takut.
Begitu juga kalau bertamu. Bila perawat datang bertamu, sebelumnya ia mengetahui waktu atau kesempatan orang yang ditamui untuk menerimanya. Pada waktu dinas biasanya tersedia jam tertentu untuk menerima tamu.
Peringatan kalau bertamu di rumah Sakit :
1.Tidak dibenarkan duduk di tempat tidur si sakit, sebaiknya mengambil kursi/tempat duduk lain
2.Tidak dibenarkan memperlihatkan kehkawatiran/tindakan lainnya yang dapat menambah beban pikiran/perasaan tak senang si sakit
3.Jika ada keluarga dekatnya, suami/istri datang hendaklah mengundurkan diri

B.Pakaian Dinas
Pakaian seragam dengan potongan tertentu menyatakan dari lingkungan manakah si pemakai bekerja. Jadi hendaknya diinsyafi bahwa pemakai seragam itu merupakan utusan dari suatu Rumah Sakit atau Lembaga Pendidikan.
Pakaian mencerminkan sifat si pemakainya, maka sebaiknya sangat berhati-hati jika mengenakan pakaian dinas.
Perawat wajib sederhana dalam soal pakaian dan cara berdandan. Pakaian bersih dan sopan dapat menimbulkan rasa senang dan kepercayaan si penderita untuk dirawat oleh perawat yang berpakaian demikian itu.

Perhiasan tidak boleh dipakai pada waktu dinas, karena :
1.Tidak sepadan dengan perawatan yang halus dan sederhana sifatnya
2.Kotoran-kotoran dan hama penyakit mudah melekat disitu
3.Dapat mengganggu gerak dalam bekerja
Pakaian dinas tidak pantas di pakai di luar dinas, karena pakaian dinas itu merupakan utusan dari suatu lingkungan. Dikhawatirkan bila disalahgunakan dapat mencemarkan nama baik lembaga kerja / lembaga pendidikannya.















BAB IV
SIKAP DAN PRIBADI DALAM PEKERJAN

Sikap dan pribadi menentukan segala perbuatan dan tingkah laku manusia. Keadaan sikap dan pribadi seseorang dipengaruhi oleh kekuatan batinnya : pikiran, perasan, kemauan dan ilham / intuisinya.
Kemauan seorang perawat merupakan bakat atau pemberian dari jiwanya. Ia dapat memilih dengan kekuatan pikiran, sehingga ia dapat memastikan mana yag baik dan mana yang tidak baik. Baik buruk kemauan itu tergantung pada tujuannya dan tujuan itu ditentukan oleh :
a.Keluhuran budi manusia
b.Kesosialan manusia
Orang yang berbudi luhur itu :
1.Pasti akan dihargai orang
2.Pasti akan memberi pengaruh baik pada masyarakat sekelilingnya
Anggota perawat yang tidak mempunyai keinginan belajar dan beranggapan bahwa dirinya sudah pandai, akan merugikan dirinya sendiri di kemudian hari.
Dalam pendidikan perawat, bukan saja mengerjakan perawatan merupakan bagian yang penting : mendidik budi pekerti dan membentuk disiplin yang teguh untuk mendapat hasil perawatan yang sebetulnya juga tak kalah pentingnya.
Berbicara tentang budi pekerti, tidak lepas dengan yang nemanya kejujuran. Dalam dunia perawatan kejujuran itu mempunyai arti yang luas sekali. Jujur dalam kelakuan dan pembicaraan adalah epnting untuk si sakit dan lingkungannya.
Kejujuran dalam perawatan dibagi atas 3 hal :
1.Kejujuran terhadap pekerjaan
2.Kejujuran terhadap lingkungan
3.Kejujuran dalam perkataan
Perawat hendaknya membiasakan diri menahan pembicaraan tentang hal-hal si sakit dengan orang yang tak mempunyai hal dalam hal itu dan yang tidak mengerti soal perawatan penderita, meskipun orang tersebut keluarga si sakit sendiri, perawat hendaknya berhati-hati dengan kata-kata yang dikeluarkannya.
Selain perawat harus jujur dalam menunaikan tugasnya, ia juga harus mengerti kata-kata apa yang dapat dikeluarkan sehibungan dengan penderita dan penyakitnya. Hal ini penting sekali karena berhubungan dengan jiwa dan keselamatan manusia.
Perawat harus hati-hai mengatakan perihal penyakit penderita, meskipun kepada keluarga terdekat. Sebaiknya diserahkan kepada dokter yang bersangkutan. Kemungkinan akibat yang tidak baik akan terjadi jika perawat menceritakan perihal penyakit penederita kepada orang lain / penderita itu sendiri mengetahui penyakitnya yag sebenarnya.
Menyimpan kata-kata yang dilukiskan di atas itulah yang dinamakan menyimpan “rahasia jabatan”. Suatu pelanggaran rahasia jabatan akan bertentangan dengan sumpah jabatan yang diucapkan oleh calon perawat sewaktu lulus ujian untuk memangku jabatan perawat.
SUMPAH JABATAN
“Saya bersumpah, bahwa saya akan mengerjakan perawatan dan pemeliharaan orang-orang sakit yang diserahkan kepada saya, di dalam muupun di luar Rumah Sakit, sebaik-baiknya, sesungguh-sungguhnya menurut aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam cara perawatan yang baik, dengan tidak memandang pangkat, kedudukan, bangsa dan agama. Saya tidak akan membukakan kepada siapapun juga rahasia-rahasia yang mungkin saya ketahui sewaktu saya memegang jabatan sebagai perawat, kecuali jika diminta oleh pengadilan negeri sebagai saksi. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberi kekuatan kepada saya. Demikianlah saya bersumpah”.










BAB V
PENUTUP

A.Kesimpulan
Dari uraian-uraian yang dibahas didepan, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan adalah sebagai berikut :
1.Seorang perawat harus mmepunyai budi perekti yang luhur, karena akan berfaedah bagi diri perawat maupun pasien
2.Untuk menjadi seorang perawat yang baik, ia harus memenuhi beberapa syarat/kriteria tertentu
3.Dalam proses perawatan ada 5 tahap yang dikemukakan oleh Gebby dan Lavin yaitu :
a.Tahap pengkajian
b.Tahap penegakan diagnosa keperawatan
c.Tahap penetapan rencana asuhan keperawatan
d.Tahap pelaksanaan tindakan yang direncanakan
e.Tahap pengevaluasian asuhan keperawatan
4.Seorang perawat harus memiliki rasa moralitas dan rasa kemanusiaan yang tinggi
5.Ajaran moralitas bagi perawat juga terkandung dalam sila-sila pancasila terutama sila I dan sila II
6.Perawat harus mampu beradaptasi dengan lingkungan kerjanya (Rumah Sakit) dengan berdasar pada pedoman untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan perawatan
7.Perawat harus bisa bertanggung jawab dengan sumpah jabatan yang diucapkannya

B.Saran
Dari kesimpulan diatas penulis dapat sedikit memberi saran kepada calon perawat/perawat, yaitu :
1.Menjadi seorang perawat yang pertama harus mnecintai pekerjaannya
2.Perawat harus mempunyai kepribadian yang baik
3.Calon perawat harus mampu beradaptasi dengan lingkungan kerjanya yang baru
4.Perawat sebisa mungkin menjalin komunikasi dengan pasien, sehingga bisa terjalin hubungan yang akrab diantara keduanya
5.Perawat harus bisa membawa / menempatkan diri dimana ia berada






DAFTAR PUSTAKA

B. I., Onny. 1980. Etika Perawatan. Jakarta : Bhatara Karya Aksara.
DE Santo, John, Agus Cremers. 1995. Tahap-tahap Perkembangan Moral Lawrence Kahlberg. Yogyakarta : Kanisius (anggota IKAPI).
Asih, Luh Gede Yasmin. 1993. Prinsip-prinsip Merawat Berdasarkan Pendekatan Proses Keperawatan / Yoseph Rueng. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC














DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. LATAR BELAKANG 1
B. RUMUSAN MASALAH 2
C. TUJUAN 2
D. MANFAAT 3
BAB II KAJIAN TEOROTIK 4
A.ARTI BUDI PEKERTI DALAM PERAWATAN 4
B.SYARAT MENJADI PERAWAT YANG BAIK 6
C.PROSES PERAWATAN 8
D.PERTIMBANGAN MORAL BAGI PERAWAT DALAM MENJALANKAN TUGASNYA 13
BAB III ADAPTASI DI LINGKUNGAN BARU 16
BAB IV SIKAP DAN PRIBADI DALAM PEKERJAAN 20
BAB V PENUTUP 23
A. KESIMPULAN 23
B. SARAN 24
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat allah SWT. Karena atas segala limpahan rahmat, karunia dan hidayahNya akhirnya Penulis mampu menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini disusun untuk mengetahui bagaimana seorang perawat dalam menghadapi pasien. Moral juga menjadi pertimbangan bagi seorang perawat dalam menjalankan tugasnya. Apakah tindakan-tindakan perawat/etika perawat sesuai dengan norma-norma dalam Pancasila ?. Etika seorang perawat harus sesuai dengan norma-norma dalam Pancasila, karena sila – sila dalam Pancasila secara umum mengajarkan kepada kita saling menyayangi dan mengasihi dengan sesama. Selain itu sikap dan perilaku perawat harus dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada atasan tetapi juga kepada Tuhan YME. Secara umum semua manusia memang harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa kelak di akhirat.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1.Bapak Drs. Ahmad Mutholiin, msi, selau Dosen Pembimbing.
2.Rekan-rekan dari keperawatan A dan B
3.Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu hingga terselesaikannya makalah ini.


Semoga makalah ini berguna dan bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umunya. Penulis menyadari sepenuhnya sebagai manusia biasa, tidak lepas dari kekurangan, begitu juga dengan makalah ini yang masih jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun tentunya, sangat penulis harapkan.



Penulis












MORAL DAN ETIKA PERAWAT
SEBAGAI TENAGA MEDIS DAN PELAYAN MASYARAKAT

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Semester I
Mata Kuliah Pendidikan Pancasila
Dosen Pengampu : Drs. A. Mutholiin, M. Si











Disusun Oleh :






PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KEDOKTERAN

Read More …
Read more...

DEFINISI KONSEP SEHAT SAKIT MENURUT DASAR KEPERAWATAN

KONSEP SEHAT SAKIT



BEBERAPA DEFINISI SEHAT SAKIT
1.DEFINISI SEHAT SAKIT MENURUT DASAR KEPERAWATAN
- DEFINISI SEHAT (WHO) 1947
sehat : Suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemhan.
Mengandung 3 karakteristik :
1.Merefleksikan perhatian pada individu sebagai manusia.
2.Memandang sehat dalam konteks lingkungan internal dan ektersnal.
3.Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif.
Sehat bukan merupakan suatu kondisitetapai merupakan penyesesuaian, bukan merupakan suatu keadaan tapi merupakan ptoses.
Proses disini adalah adaptasi individu yang tidak hanya terhadap fisik mereka tetapai terhadap lingkungan sosialnya.
2.DEFINISI SEHAT SAKIT DALAM KEPERAWATAN
- DEFINISI SEHAT PENDER (1982)
Sehat : Perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (Aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesesuaian diperlukan untuk mempertahankanstabilitas dan integritas struktural.
- DEFINISI SEHAT PAUNE (1983)
Sehat : Fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces) yang menjamin tindakanuntuk perawatan diri ( self care Aktions) secara adekual.
Self care Resoureces : encangkup pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Self care Aktions : Perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahan kan dan menigkatkanfungsi psicososial da piritual.
3. DEFINISI SEHAT MENURUT PERSEORANGAN
Pengertian sehat menurut perseorangan dan gambaran seseorang tentang sehat sangat bervariasi.
Faktor yang mempengaruhi diri seseorang tentang sakit :
1.Status Pekembangan.
Kemampuan mengerti tentang keadaan sehat dan kemampuan merespon terhadap perubahandalam kesehatan dikatakan dengan usia.
Contoh : Bayi dapat merasakan sakit, tetapi tidak dapat mengungkapkan dan mengatasi.
Pengetahuan perawat tentang status perkembangan individu memudahkan untuk melaksanakan pengkajian terhadap individu dan membantu mengatisipasi perilaku-perilku selanjutnya.
2.Pengaruh sosial dan kultural
Masing-masing kultur punya pandangan tentang sehat dan diturunhan dari orang tua keanak-anak.
Contoh : - Cina : sehat adalah keseimbangan antara Yin dan yang.
- Sosok (ekonomi rendah) flu suatu yang biasa, merasa sehat.
3. Pengalaman masa lalu.
Seseoran dapat mempertimbangkan adanya rasa nyeri / sakit disfungsi (tidak berfungsi) membantu menentukan definisi seorang tentang sehat.
4. Harapan sesorang tentang dirinya.
Seseorang mengharapkan dapat berfungsi pada tingkat yang tinggi baik fisik maupun psikososialnya jika mereka sehat.
Faktor lain yang berhubungan dengan diri sendiri.
1.Bagaimana individu menerima dirinya dengan baik / secara utuh.
2.Self Esleem (harga diri), Body Image (gambaran diri), kebutuhan, peran dan kemampuan.
4. DEFINISI SAKIT
yaitu defiasi / penyimpangan dari status sehat.
PEMONS (1972)
Sakit : gangguan dalam fungsi normal individu sebagai tatalitas termasuk keadaan organisme sebagai siste biologis dan penyesuaian sosialnya.
BAUMAN (1965)
Seseoang menggunakan3 kriteria untuk menentukan apakah mereka sakit :
1.Adanya gejala : Naiknya temperatur, nyeri.
2.Persepsi tentang bagaimana mereka merasakan : baik, buruk, sakit.
3.Kemampuan untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari : bekerja , sekolah.
Penyakit adalah istilah medis yang digambarkansebagai gangguan dalam fungsi tubuh yang menghasilkan berkuranya kapasitas.
Hubungan antara sehat, sakit dan penyakit pada dasarnya merupakan keadaan sehat dan sakit.
1.Hasil interaksi seseorang dengan lingkungan.
2.sebagai manifetasi keberhasilan / kegagalan dalam beradaptasi dengan lingkungan.
3.Gangguan Kesehatan.
Faktor-fktor yang mempengaruhi tingkah laku sehat.
Sehat sakit berada pada sesuatu dimana setiap orang bergerak sepanjang kehidupannya.
1.Suatu skala ukur secara relatif dalam mengukur ke dalam sehat / kesehatan seseorang.
2.kedudukannya : dinamis, dan bersifat individual.
3.Jarak dalam skala ukur : keadaan sehat secara optimal pada satu titik dan kemauan pada titik yang lain.
RENTANG SEHAT SAKIT MENURUT MODEL
HOLISTIK HEALTH










SEJAHTERA SEHAT-SEHAT MENENGAH
YANG SEKALI – SEKALI NORMAL SAKIT

Tahapan sakit menurut Suchman terbagi menjadi 5 tahap yaitu :
a. Tahap Transisi : individu percaya bahwa ada kelainan dalam tubuh ; merasa dirinya tidak sehat / merasa timbulnya berbagai gejala merasa adanya bahaya.
Mempunyai 3 aspek :
- secara fisik : nyeri, panas tinggi.
- Kognitif : interprestasi terhadap gejala.
- Respons emosi terhadap ketakutan / kecamasan.
Konsultasi dengan orang terdekat : gejala perasaan, kadang-kadang mencoba pengobatan dirumah.
b.Tahap asumsi terhadap peran sakit (sick Rok).
Penerimaan terhadap sakit.
Individu mencari kepastian sakitnya dari keluarga atau teman : menghasilkan peran sakit.
Mencari pertolongan dari profesi kesehatan yang lain mengobati sendiri, mengikuti nasehat teman / keluarga.
Akhir dari tahap ini dapat ditentukan bahwa gejala telah berubah dan merasa lebih buruk. Individu masih mencari penegasan dari keluarga tentang sakitnya. Rebcana pengobatan dipenuhi / dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman.
c.Tahap kontak dengan pelayanan kesehatan
- Individu yang sakit : meminta nasehat dari profesi kesehatan atas inisiatif sendiri.
- 3 tipe informasi :
1. Validasi keadaan sakit.
2. Penjelasan tentang gejala yang tidak dimengerti.
3. Keyakinan bahwa mereka akan baik.
- Jika tidak ada gejala : individu mempersepsikan dirinya sembuh, jika ada gejala kembali pada posisi kesehatan.
d. Tahap ketergantungan
Jika profesi kesehatan menvalidasi (menetapkan) bahwa seseorang sakit : menjadi pasien yany tergantungan untuk memperoleh bantuan.
Setiap orang mempunyai ketergantungan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan.
Perawat  * Mengkaji kebutuhan ketergantungan pasien di kaitkan dengan tahap perkembangan.
* Support terhadap perilaku pasien yang mengarah pada kemandirian.
e. Tahap Penyembuhan
Pasien belajar untuk melepaskan peran sakit dan kembali pada

Read More …
Read more...

Fraktur Patella, MEDICAL, HOSPYTAL, EMERGENCY, MEDICINE

BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN

1. DEFINISI
Terdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan para ahli melalui berbagai literature.
Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse, MF dan Geissler, AC (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Back dan Marassarin (1993) berpendapat bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada tulang yang berlebihan.
Sedangkan menurut anatominya, patella adalah tempurung lutut. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa fraktur patella pextra merupakan suatu gangguan integritas tulang yang ditandai dengan rusaknya atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dikarenakan tekanan yang berlebihan yang terjadi pada tempurung lutut pada kaki kanan.

2. ETIOLOGI
Lewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh namun mempunyai cukup kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan.
Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu:
a. Fraktur akibat peristiwa trauma
Sebagisan fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran atau penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. Penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas.
b. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada tibia, fibula atau matatarsal terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.
c. Fraktur petologik karena kelemahan pada tulang
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.

3. PATOFISIOLOGI
Menurut Black dan Matassarin (1993) serta Patrick dan Woods (1989). Ketika patah tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon inflamsi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukoit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematon yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematon menyebabkn dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndroma comportement.

4. KALSIFIKASI FRAKTUR
Berikut ini terdapat beberapa klasifikasi raktur sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli:
a. Menurut Depkes RI (1995), berdasarkan luas dan garis traktur meliputi:
1) Fraktur komplit
Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyeberang dari satu sisi ke sisi lain serta mengenai seluruh kerteks.
2) Fraktur inkomplit
Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai korteks (masih ada korteks yang utuh).
b. Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan hubungan dengan dunia luar, meliputi:
1) Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh, tulang tidak menonjol malalui kulit.
2) Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka potensial terjadi infeksi. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 grade yaitu:
a) Grade I : Robekan kulit dengan kerusakan kulit otot
b) Grade II : Seperti grade I dengan memar kulit dan otot
c) Grade III : Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh darah, syaraf otot dan kulit.
c. Long (1996) membagi fraktur berdasarkan garis patah tulang, yaitu:
1) Green Stick yaitu pada sebelah sisi dari tulang, sering terjadi pada anak-anak dengan tulang lembek
2) Transverse yaitu patah melintang
3) Longitudinal yaitu patah memanjang
4) Oblique yaitu garis patah miring
5) Spiral yaitu patah melingkar
d. Black dan Matassarin (1993) mengklasifikasi lagi fraktur berdasarkan kedudukan fragmen yaitu:
1) Tidak ada dislokasi
2) Adanya dislokasi, yang dibedakan menjadi:
a) Disklokasi at axim yaitu membentuk sudut
b) Dislokasi at lotus yaitu fragmen tulang menjauh
c) Dislokasi at longitudinal yaitu berjauhan memanjang
d) Dislokasi at lotuscum controltinicum yaitu fragmen tulang berjauhan dan memendek.

5. GAMBARAN KUNIK
Lewis (2006) menyampaikan manifestasi kunik fraktur adalah sebagai berikut:
a. Nyeri
Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.
b. Bengkak/edama
Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada daerah fraktur dan extravasi daerah di jaringan sekitarnya.
c. Memar/ekimosis
Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di jaringan sekitarnya.
d. Spame otot
Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadu disekitar fraktur.
e. Penurunan sensasi
Terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema.
f. Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang frkatur, nyeri atau spasme otot. paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf.

g. Mobilitas abnormal
Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang panjang.
h. Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian tulang digerakkan.
i. Defirmitas
Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.
j. Shock hipouolemik
Shock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat.
k. Gambaran X-ray menentukan fraktur
Gambara ini akan menentukan lokasi dan tipe fraktur

6. KOMPLIKASI
Komplikasi akibat fraktur yang mungkin terjadi menurut Doenges (2000) antara lain:
a. Shock
b. Infeksi
c. Nekrosis divaskuler
d. Cidera vaskuler dan saraf
e. Mal union
f. Borok akibat tekanan

7. PENATALAKSANAAN FRAKTUR
Terdapat beberapa tujuan penatalaksanaan fraktur menurut Henderson (1997), yaitu mengembalikan atau memperbaiki bagian-bagian yang patah ke dalam bentuk semula (anatomis), imobiusasi untuk mempertahankan bentuk dan memperbaiki fungsi bagian tulang yang rusak. Jenis-jenis fraktur reduction yaitu:
a. Manipulasi atau close red
Adalah tindakan non bedah untuk mengembalikan posisi, panjang dan bentuk. Close reduksi dilakukan dengan local anesthesia ataupun umum.
b. Open reduksi
Adalah perbaikan bentuk tulang dengan tindakan pembedahan sering dilakukan dengan internal fixasi menggunakan kawat, screlus, pins, plate, intermedullary rods atau nail. Kelemahan tindakan ini adalah kemungkinan infeksi dan komplikasi berhubungan dengan anesthesia. Jika dilakukan open reduksi internal fixasi pada tulang (termasuk sendi) maka akan ada indikasi untuk melakukan ROM.
c. Traksi
Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang fraktur untuk meluruskan bentuk tulang. Ada 3 macam yaitu:
1) Skin traksi
Skin traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan menempelkan plester langsung pada kulit untuk mempertahankan bentuk, membantu menimbulkan spasme otot pada bagian yang cedera, dan biasanya digunakan untuk jangka pendek (48-72 jam).
2) Skeletal traksi
Adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera dan sendi panjang untuk mempertahankan traksi, memutuskan pins (kawat) ke dalam tulang.
3) Maintenance traksi
Merupakan lanjutan dari traksi, kekuatan lanjutan dapat diberikan secara langsung pada tulang dengan kawat atau pins.

Read More …
Read more...

Contoh artikel : Makna opini akuntan

Polemik mengenai opini akuntan yang dikeluarkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada akhir-akhir ini telah melebar dari makna hakikinya sebagai suatu produk profesi akuntan yang didasarkan pada standar akuntansi dan standar audit. Sebagai salah satu barang publik, opini akuntan dibutuhkan untuk menjamin dan melindungi kepentingan publik dari penyajian informasi yang bias.

Opini akuntan diberikan terhadap laporan keuangan yang disampaikan manajemen suatu organisasi. Laporan keuangan merupakan laporan akuntabilitas manajemen yang telah mendapatkan amanah untuk menjalankan operasi dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada. Laporan keuangan yang dikeluarkan tersebut dibutuhkan para penggunanya untuk menunjang proses pengambilan keputusan mereka.

Sebagai pihak yang berada jauh dari manajemen, para pengguna tersebut tentunya tidak memiliki informasi yang memadai berkaitan dengan pengelolaan organisasi dengan semua sumber dayanya. Apabila kondisi itu dibiarkan, pengguna akan salah dalam pengambilan keputusan ekonomi, sosial, maupun politiknya. Seiring dengan itu, dengan terjadinya kesenjangan informasi, manajemen dapat melakukan moral hazzard.

Untuk mengatasi hal tersebutlah, profesi auditor sangat dibutuhkan sebagai profesi yang melindungi kepentingan publik.

Makna opini akuntan

Dalam terminologi akuntansi dan pengauditan, terdapat empat macam opini yang diberikan auditor terhadap laporan keuangan manajemen, yang meliputi opini wajar tanpa pengecualian (WTP = unqualified opinion), opini wajar dengan pengecualian (WDP = qualified opinion), menolak memberikan opini (disclaimer opinion), dan tidak wajar (adverse opnion).

Opini akuntan tersebut diberikan kepada laporan keuangan secara utuh yang terdiri atas neraca, laporan rugi/laba (laporan realisasi anggaran), laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

Opini WTP menunjukkan bahwa laporan keuangan tersebut telah disajikan secara wajar, tidak terdapat kesalahan yang material, dan sesuai standar, sehingga dapat diandalkan pengguna dengan tidak akan mengalami kesalahan dalam proses pengambilan keputusan. Opini WDP berarti bahwa laporan keuangan masih wajar, tidak terdapat kesalahan yang material, sesuai dengan standar, namun terdapat catatan yang perlu diperhatikan.

Opini disclaimer berarti bahwa terdapat suatu nilai yang secara material (signifikan) tidak dapat diyakini auditor. Kondisi itu dipicu adanya suatu pembatasan ruang lingkup pemeriksaan yang dilakukan manajemen serta sistem pengendalian inter sedemikian lemahnya, sehingga auditor tidak mendapatkan keyakinan mengenai substansi laporan keuangan tersebut.

Sedangkan adverse opinion menunjukkan bahwa laporan keuangan sangat buruk dan secara material benar-benar tidak dapat diandalkan untuk pengambilan keputusan.

Implikasi opini akuntan

Laporan keuangan diperlukan untuk menciptakan kredibilitas manajemen di mata stakeholders-nya. Mengingat hanya manajemen yang memiliki informasi yang berkaitan dengan substansi laporan keuangan tersebut, pihak yang independen diperlukan untuk memberikan pendapatnya dalam rangka meningkatkan kredibilitas laporan keuangan tersebut.

Untuk organisasi komersial, opini akuntan akan memengaruhi para investor, calon investor, dan kreditur dalam proses penetapan investasi dan pemberian kredit yang akan mereka lakukan kepada organisasi. Opini akuntan juga akan berdampak pada harga saham organisasi. Opini yang disclaimer bagi organisasi komersial tentunya akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup organisasi (perusahaan) tersebut.

Bagi organisasi publik, seperti pemerintah, laporan keuangan diperlukan sebagai sarana untuk akuntabilitas di samping bermanfaat untuk proses pengambilan keputusan oleh penggunanya. Akuntabilitas berarti pemerintah mampu menjawab semua pertanyaan yang berkaitan dengan amanah yang diembannya.

Dalam kaitan dengan opini disclaimer yang diberikan BPK terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) harus disikapi secara objektif sebagai suatu bagian dari pelaksanaan manajemen publik. Kalau kita lihat perjalanan sejarah bangsa kita, kewajiban untuk menyusun laporan keuangan pemerintah secara eksplisit baru dinyatakan dalam undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. UU itu merupakan upaya besar dari Departemen Keuangan untuk mereformasi bidang keuangan negara, mengingat sebelum itu, pemerintah masih mengelola keuangan negara dengan berdasarkan pada peraturan zaman Belanda, yakni ICW tahun 1925. Dengan demikian, berarti proses menuju tertib pengelolaan keuangan negara yang benar masih dalam tahap pembelajaran.

Sehubungan dengan hal tersebut, opini disclaimer atas LKPP tidak berarti bahwa kredibilitas dan akuntabilitas pemerintah menjadi buruk. Sebagai suatu organisasi publik, kinerja pemerintah tidak hanya tersajikan dalam laporan keuangan. Kinerja pemerintah sebagai penyedia pelayan publik terlalu besar dan sangat majemuk untuk ditampilkan dalam LKPP. Dengan demikian, opini disclaimer terhadap LKPP tidak dapat diartikan bahwa pemerintah sudah tidak kredibel dan tidak akuntabel. Luasnya target-target pembangunan nasional yang wajib dicapai pemerintah, seperti peningkatan pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan, dan peningkatan lapangan pekerjaan harus dilihat sebagai keberhasilan yang patut untuk dihargai.

Namun demikian, pemerintah tetap harus melakukan berbagai perbaikan yang signifikan agar LKPP mendapatkan opini yang lebih baik pada tahun-tahun mendatang. Apabila kondisi disclaimer terus terjadi tentunya akan berdampak negatif terhadap kredibilitas dan akuntabilitas pemerintah secara nasional maupun internasional.

Berbagai kondisi yang memicu terbitnya opini disclaimer LKPP perlu segera ditindaklanjuti. Kondisi tersebut meliputi antara lain, belum adanya neraca awal pemerintah, lemahnya sistem pengendalian intern pemerintah serta berbagai kondisi yang belum mencerminkan pengelolaan keuangan secara kredibel perlu segera dibenahi.

taked of www.mediaindonesia.com


Read More …
Read more...

Proposal Penelitian skripsi : Hubungan Antara Ibu Hamil Anemia dengan Status Gizi Balita di Desa "X"Teras A

Outline Proposal
A. Judul Penelitian : Hubungan Antara Ibu Hamil Anemia dengan Status Gizi Balita di Desa "X"Teras A


B. Latar Belakang Masalah
Berabagai masalah gizi di Indonesia salah satunya pada ibu hamil anemia dengan status gizi balita. Faktor-faktor yang menyebabkan asupan makanannya berkurang, kadar Hb-nya rendah, kekurangan Fe, absorbsi besi berkurang. Untuk mengatasi keadaan ini disamping memberikan suplementasi zat besi dan meningkatkan kadar hemoglobin, anemia sendiri adalah anemia yang disebabkan karena kekurangan zat besi di dalam tubuh yang mengakibatkan gangguan pada sentesa besi (Fe). Tetapi anemia kurang besi dengan pemberian tablet sulfaferons 3 x 10 mg/kg BB/hari, preparat besi parenteral, tranfusi (jika Hb kurang dari 5 gr/dl) antibiotik dan nutrisi kaya akan zat besi, bahaya pada anemia ibu hamil: BBLR, lesu, pucat dan lemah.

C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat ditarik rumusan masalah:
1. Apakah ada hubungannya ibu hamil anemia dengan status gizi balita?
2. Faktor-faktor apakah yang dapat mempengaruhi terjadinya ibu hamil anemia?

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan staus gizi balita
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui status ibu hamil anemia.
b. Mengetahui hubungan antara ibu hamil anemia dengan status gizi balita.
c. Mengetahui status gizi balita.
d. Mengetahui pola makan ibu hamil anemia.
E. Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi tentang hubungan antara ibu hamil antara dengan status gizi balita di desa Teras kabupaten Boyolali.
2. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk masukan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya anemia pada ibu hamil.

F. Tinjauan Pustaka
1. Kerangka Konsep

Status gizi Balita
Konsumsi Makanan
Ibu Hamil Anemia
Faktor yang Mendukung
- Kemauan
- Reword
- Motivasi
Faktor Penghambat
- Aktivitas
- Kebiasaan Makan

2. Kerangka Teori
Ibu Hamil Anemia
Asupan Makanan
Status gizi Balita

G. Hipotesis Penelitian


Ada hubungan antara ibu hamil anemia dengan status gizi balita di desa Teras kabupaten Boyolali

H. Jenis dan Desain Penelitian
Berdasarkan jenis penelitian analitik dengan pendekatan coos sectional.
I. Populasi dan Sampel
Populasi adalah semua ibu hamil anemia yang wanita subur yang tercatat sebagai warga desa Teras di kabupaten Boyolali sebanyak 100 orang.
Sampel adalah jumlah ibu hamil anemia yang diambil secara random sampling dengan jumlah sampel 50 ibu hamil

J. Variabel Penelitian
Variabel bebas : ibu hamil anemia
Variabel tingkat : status gizi balita

K. Cara Pengumpulan Data
1. Metode wawancara
2. Metode Penggunaan koesioner
3. Metode uji laboratorium

Read More …
Read more...

Followers

  © Blogger template Werd by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP  

Recommended By WODPRES And Powered By Blogger